Kata Pengantar

17 April 2007

Assalâmu ’alaikum wa rahmatullâh wa barakâtuh.

Alhamdulillâh, banyak pembaca menyambut ‘hangat’ dua bukuku terdahulu, Manajemen Cinta Musim Dingin dan Nikmatnya Asmara Islami (Manajemen Cinta Musim Semi). Heboooh!!! Banyak yang pro, banyak pula yang kontra. Sebagian pembaca merasa tercerahkan dan tergugah. Ternyata, mereka akui, ada cara efektif buat ngelaksanain islamisasi di ajang pacaran. Ujar mereka, “Sayang banget kalo peluang emas ini disia-siain!” Tapi, sebagian pembaca lainnya merasa blingsatan plus gregetan. Mereka ngeri kalau-kalau perzinaan semakin marak di kalangan remaja muslim-muslimah dengan membudayanya ‘pacaran Islami’ di masyarakat. “Segera nikah aja,” saran mereka.

Lepas dari pro dan kontra, banyak pembaca bertanya-tanya: Bagaimana mungkin kita yang berdarah muda ini tahan dari godaan syetan dan dorongan hawa nafsu bila melakukan pacaran? Andaikan tahan, buat apa nantang risiko berat ini? Mungkinkah hubungan asmara yang ‘hot’ (di ‘Musim Panas’) dikelola secara Islami? Kalo iya, pacaran yang Islami itu gimana caranya?

Menyongsong rasa ingin tahu itu, aku pengen segera menyudahi penulisan naskah buku Beginilah Pacaran Islami (Manajemen Cinta Musim Panas) dalam satu jilid, persis kayak dua buku terdahulu itu. Tapi, ternyata penyusunan buku musim ketiga dari seri Manajemen Cinta Empat Musim ini lambat sekali. Sembilan bulan tlah berlalu, tapi baru sepertiga bagian yang terselesaikan. Jauh dari kecepatan yang diharapkan.

Terus, mo nunggu tuntasnya keseluruhan naskah Manajemen Cinta Musim Panas? Kapan waktunya? Mungkin tiga bulan lagi, mungkin pula tiga tahun lagi. Belom bisa dipastiin. Padahal, nggak sedikit pembaca yang penasaran banget, pengen cepet-cepet ngenal konsep pacaran Islami. Kalo gitu, kita ambil jalan pintas, eh… jalan tengah aja.

Karena manajemen cinta ‘musim panas’, seperti halnya musim-musim lainnya, terdiri dari tiga surat puanjaaang yang bisa berdiri sendiri-sendiri, aku putuskan memperlakukannya sebagai trilogi. Rencana satu buku untuk ‘manajemen cinta musim panas’ aku ubah menjadi tiga buku, masing-masing berisi satu surat. Buku ke-1 menyajikan Surat 7, “Berpedas-Pedas Tanpa Kepedasan”; buku ke-2 akan menghadirkan Surat 8, “Berkembangnya Fitrah Rahimiah”; buku ke-3 bakal menampilkan Surat 9, “Menjadi Rahmat bagi Lingkungan”. Judulnya pun bukan lagi Beginilah Pacaran Islami, melainkan sebagaimana yang tertayang di sampul depan.

Di buku ini, aku bermaksud mengajak pembaca untuk mempertimbangkan strategi-strategi untuk melahap ‘hidangan pedas’ (menjalani hubungan romantis pra-nikah) tanpa mengalami ‘kepedasan’ (tanpa terhanyut oleh rayuan iblis dan bisikan hawa nafsu). Kuharap, kita insaf dan kian insaf bahwa tantangan-tantangan yang dapat membuat kita ‘kepedasan’ ini teramat serius. Celakalah bagi yang maunya nyantai ato seneng-seneng doang. Sebaliknya, beruntunglah kita kalo menyingsingkan lengan-baju untuk menangkal dan mengatasi aneka tantangan itu, seraya berletih-lelah dalam ikhtiar menyabet berbagai peluang emas yang menanti kita di jalan pacaran.

Dengan terbitnya buku ke-1 dari trilogi “Manajemen Cinta Musim Panas” ini, aku bersyukur lagi kepada Allah SWT. Alhamdulillâh… Aku pun berterima kasih kepada banyak orang. Untuk penerbit Qultum Media, terutama Mas Fulex, thank you very much for publishing this book. Buat Dik Ayu, makasih banget kamu tlah nyediain diri dengan tangan terbuka selaku penampung curhatku. Arigato gozaimas aku sampaiin buat Bunda Yurida, Mas Shodiq, dan Mbak Imun serta keluargaku yang dengan sabar mendorongku untuk terus menulis sebaik-baiknya. Syukran untuk temen-temen yang aktif ngasih masukan kepadaku di milis http://groups.yahoo.com/group/ac4x3/ atau pun via email. Terima kasih juga untuk pihak-pihak lain yang nggak aku umumin di sini, yang turut andil secara langsung atau pun tak langsung, hingga buku ini hadir di hadapan pembaca.

24 Mei 2005

Aisha Chuang

Surat 7: Berpedas-Pedas Tanpa Kepedasan

1.    Tafakur: Pacaran Kok Gitu, Sih?

2.    Tafahus: Aduuuh… Gimana, Dong?

3.    Ta’aruf: Secara Islami, Siapa Takut?!

4.    Ta’ajub: Boleh, Dong, Kita jadian?!  

 

 

Assalaamu ’alaikum, Dik Ayu…

Kabarmu apik2 aja, kan? J Tetap ayu luar-dalam, kan? Aku yakin deh, bokap-nyokap ngasih nama ‘Ayu’ diiringi gelombang asa dan doa, agar kau jadi cantik lahir-batin.

Dengan doa dan asa yang menggelombang pula kususun buku ini untuk memperkenalkan konsep ‘pacaran Islami’ dengan sudut  pandang manajemen cinta ‘musim panas’. Boleh dong, ngarepin Sang Mahaindah nuntun jari-jemari kita: tik tik tik… ngetik huruf2 yang nggambarin gimana sih baku-asmara Islami pra-nikah. (Awas! Bukan baku-syahwat, lho!) 

Boleh juga dong, kusebarin surat2 ‘pribadi’ kita. Gambaran baku-asmara Islami di surat terbuka ini perlu dibaca khalayak luas, kan? Nggak terbatas bagi Dik Ayu seorang. Nggak terbatas bagi yang berusia 19/20/21 saja. Asli, buku ini cocok bagi siapa pun yang pengen nunjukin “beginilah pacaran Islami” kepada siapa pun. Pada diri sendiri kèk, sahabat kèk, kerabat kèk, adik kèk, kemenakan kèk, anak kèk, murid kèk, obyek dakwah kèk, ato —mungkin yang terpenting— kepada si dia. 

Adikku sayang… Omong2, apa kabar si dia? Gimana perkembangan asmaramu? Sekarang aku lagi pengen ndengerin suaramu. Kangen lagi nih. Jangan sungkan2 ‘ngerepotin’ aku, ya! Meski kini kita dipisahin ama Selat Sunda, aku tetep sueneeeng nemenin perjalanan cintamu. Walau Allah SWT mentakdirkan tanah Jawa dan tanah Sumatera bertasbih sendiri2, kita masih berpijak di bumi-Nya dengan tatasurya yang sama, kan? Kendati raga kita merenggang, jiwa kita masih bisa saling melekat. Paling tidak, lewat surat2 terbuka ini.

Agar kita kian lekat, tiga surat di Musim Panas sekarang ini kuusahain lebih ‘nyantai’. Berbeda dari Surat 1-3 yang condong ‘ngakademis’ dan Surat 4-6 yang cenderung ‘nyeni’. Sekarang bukan masanya lagi pusing2 mikirin teori2. Nggak perlu repot2 debat-kusir mersoalin ada-tidaknya pacaran islami. (Asumsikan aja, memang ada ‘pacaran islami’, apa pun istilahnya.) Keasyikan menggali ‘air madu’ di lubuk kalbu? Setiap saat membayangkan hubungan romantis yang akan kita jalin dengan si dia? Jangan gitu. Musim Panas ini saatnya praktek, beramal, bergerak, bertindak… So, di Surat 7-9 ini, aku pengen lebih kerap bicara yang praktis2. Yaaaach, kayak obrolan kita menjelang bobok dulu, sewaktu kita berada di ruang yang sama setiap malam…

Dik Ayu, ayolah kita menyatu… di bawah guyuran sinar bulan purnama yang sama. Yuk kita berbaring di atas tikar mengkuang, saling curhat (curah hati) dan curak (curah akal). Kita berbarengan, kau di sana aku di sini, melahap sambal rendang made in Melayu. (Uhm, lezaaat.) Nanti klo keabisan stok, kami dikirimi lagi, ya! Mbakmu seneng berpedas-pedas tanpa kepedasan. Enak, sih!

> HUAH, HUAH, HUAH…

Tenaaang… Menu kita komplit. Empat sehat lima sempurna. Hahaha… Kapan aja kaurasa santapan Musim Panas ini basi, tercemar, atawa kurang Islami, tamparlah pipiku… dengan bibirmu nan bergetah itu! Hehehehe…. Cintamu padaku tegas, tapi lembut, kan?

——

1.    Tafakur: Pacaran Kok Gitu, Sih?

2.    Tafahus: Aduuuh… Gimana, Dong?

3.    Ta’aruf: Secara Islami, Siapa Takut?!

4.    Ta’ajub: Boleh, Dong, Kita Jadian?!  

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.