Aduuuh… Gimana, Dong?
Dik Ayu tercinta… tantangan yang menyambut kita manakala kita masuki Musim Panas ini serius banget, ya? Bayangin! Cuman gara2 nggak becus ngurusin satu biji makhluk lain-jenis bernama Pak Arjuna, begitu berat beban rasa kecewa yang dipikul si Intan. Setelah ‘nasi jadi bubur’, Intan korbankan ‘segalanya’ dengan hasil yang jauh dari harapannya, barulah dia kesal bukan main. Ia sesali segala kebodohan (kejahiliyahan) dan kesalahan fatalnya.
> Gampang ya, Mbak, nyari2 kesalahan orang?
Nyindir ni ye? Hehehe…. Untung kita ngerasa kesindir. Jadinya, ya introspeksi. Jangan sampai sok alim. Jangan mentang2 nasib kita tak sesial Intan, lantas kita tenang2 aja seolah tiada masalah. Siapa tau, Intan bener2 dah insaf dan tobatnya diterima Tuhan. Siapa tau, dia tlah sesuci malaikat. Siapa tau, kini kita terlena dan jadi budak iblis gara2 ‘keluguan’ kita ini. Dikit demi dikit tercemari ‘polusi’, tak sadar betapa ‘bibit2 penyakit ganas’ bersarang di dalam diri kita. Merasa sehat padahal sekarat. Kayak katak yang duduk manis (eh, mungkin jongkok manis, tepatnya), berendam di dalam kuali di atas api. Direbus perlahan-lahan, tau2 nyawa melayang.
> Weleh weleeeh…
Makanya, biarpun yang kita kupas di sini bukan kasus diri kita sendiri, jangan sampai ‘kuman di seberang lautan tampak, gajah di pelupuk mata tak tampak’. Saat ngaca di depan cermin, coba deh kita pake teropong. Kita jalankan tafahus (penyelidikan, pemeriksaan, penggeledahan) terhadap diri kita. Introspeksi, istilah kerennya. Siapa tau, ada jerawat di wajah segede gajah.
(Aku di depan cermin:) Aduuuh, mati aku! Jerawatku satu jenisnya, jutaan jumlahnya… Enyahlah kau, syetan… Go to hell.
> LL…..LLLL…..
Ada apa, Dik? Kuamat-amati, tiada setitik pun noda di wajahmu. Mulus banget. Persis bidadari. Tapi, kenapa mukamu kau tekuk2?
> Disamain ama syetan, di-go to hell-i, siapa nggak sebel?
Oooo…. yang kusapa tuh… syetan itu sendiri. Bukan kamu, Dik! Suer!! Kamu tuh emang ‘bidadari’ yang dikirim Tuhan ke bumi, agar pencinta2mu yang mengagumi keindahanmu lebih termotivasi untuk mengabdi kepada-Nya, dengan harapan dianugerahi bidadari seindah kamu di kelak kemudian hari.
> Masak, sih? Kata seorang penulis, “Dalam berpacaran
> si laki-laki yang berperan sebagai syetan atau mungkin
> sebaliknya, si wanita yang menjadi syetan.”
> Landasannya, surat an-Nas ayat ke-5. Jadi, kalo aku
> pacaran, aku jadi syetannya pacarku?
Menurut ayat tsb (dan ayat2 relevan lainnya), sebagian manusia bisa menjadi ‘syetan’, yaitu ‘pembisik jahat’ yang menjerumuskan orang lain. Memang, ada kemungkinan, kita biarkan syetan merasuki diri kita. Bisa saja kita menjadi syetannya pacar kita. Namun, pacaran tidak selalu dan tidak harus saling menjerumuskan. [i] Jadi, pacar tidak identik dengan ‘syetan’.
> O, ya? Kabarnya, Rasul bersabda:
> “Sesungguhnya wanita itu datang dalam bentuk syetan
> dan pergi juga dalam bentuk syetan.” (HR Muslim).
> Jadi, Mbak Ais, kita2 yang cantik ini
[ups, jadi GR]
> iblisnya kaum adam? L Seperti Mbak ‘Eka’, Mbak ‘Dwi’,
> dan Mbak ‘Intan’ dalam skandal Pak ‘Arjuna’?
> Apakah kaum hawa ini biang keladi rusaknya moral umat?
> Apakah tampilnya wanita di depan hidung (belang) pria
> sumber tumbuhnya ‘jerawat’ di wajah polos bak malaikat
> kaum adam?
Bukan gitu, Dik. Kujelasin, ya…
Aku seneng kamu merujuk ke sunnah Rasul. Bagus tuh. Yang lebih oke, lebih ati2lah dalam ngutip hadits. Usahakan jangan gampang maen penggal dan jangan pula ngelepasin teks dari konteks (asbabul wurud)-nya. Bahaya! Bisa2 peganganmu melenceng 180 derajat dari apa yang sesungguhnya dimaksud oleh Nabi saw.
Ketahuilah, Dik, hadits tsb ada lanjutannya. Bunyinya gini nih: “Jika salah seorang laki-laki [yang berstatus kawin] di antara kalian melihat perempuan [dan terpesona akan daya-tarik seksualnya], maka hendaklah dia pulang untuk menggauli istrinya. Hal itu dapat meredakan gejolak [birahi] yang ada dalam dirinya.”[ii]
Jadi, ‘bentuk wanita = syetan’ terjadi sewaktu syetan menyusup ke dalam benak seorang pria, menjadikan sosok wanita yang bukan istrinya tampak begitu menarik dalam pandangannya, sehingga ia ingin berhubungan seksual dengannya. Secara demikian, bisa juga ‘bentuk pria = syetan’ ketika syetan membujuk seorang perempuan untuk berzina dengan lelaki yang sosoknya membuat dia terpikat.
Hadits tsb ngisyaratin juga bahwa saat si suami terpikat pada wanita yang bukan istrinya, solusi utamanya bukanlah poligami, melainkan lebih mendekat ke arah sang istri! Poligami itu solusi Islami untuk beberapa kasus tertentu lainnya. Namun, bukan ini tema obrolan kita. Lagian, udah ada banyak bacaan berbobot mengenai poligami. Baiknya, kita konsentrasi aja pada sesuatu yang masih ‘asing’, belum banyak didalami, yaitu apa, mengapa, dan bagaimana ‘pacaran islami’.
[i] Lihat Muhammad Shodiq, Wahai Penghujat Pacaran Islami (WPPI), Bab 3.
[ii] Lihat Shahih Muslim, jilid 4, hlm 129-130.
About this entry
You’re currently reading “Aduuuh… Gimana, Dong?,” an entry on Pacaran Islami? Siapa Takut!
- Published:
- 17 April 2007 / 16:19
- Category:
- 2 - Tafahus
- Tags:
- pacaran islami
