Cinta Dicari, Sakit Didapat (I)
Untuk contoh bahan perenungan, aku mo bagi2 hidangan ‘panas’, bagi2 cerita yang ‘hot’. Aku pengen kita ngobrolin pengalaman cinta yang ‘membara’ dari seorang kawan baru. Cewek. Namanya kita sebut aja ‘Intan’ (bukan nama sebenarnya).
Dia, beberapa bulan yang lalu, curhat padaku panjang-lebar. (Sebetulnya Intan belum begitu akrab denganku, tapi entah kenapa dia curhat padaku sampai ‘tuntas’.) Sepanjang Jalan Kenangan, selebar novel Ronggeng Dukuh Paruk atau roman Salah Asuhan. Tapi, yang akan kuungkap padamu, untuk kita renungi dalam2, versi ringkasnya aja, ya. Sepanjang cerpen2 teen-lit, selebar kamar kos2an mahasiswa Jogja. Kupikir, dengan kisah versi pendek pun kita udah bisa merenungi bagaimana dia membalik sebuah peribahasa menjadi ‘berenang-renang ke hulu, berakit-rakit ke tepian’.
Kisah cinta si Intan bermula beberapa tahun yang lalu. Waktu itu, ia duduk di bangku SMA di sebuah kota besar. Ketika itu, ia akrab dengan seorang gurunya. Kita sebut saja dia Pak ‘Arjuna’ (bukan nama sebenarnya). Saking deketnya, kepadanya Intan menceritakan sepotong rahasianya. Katanya, beberapa minggu sebelumnya, Intan diperkosa oleh ‘Tono’ (bukan nama sebenarnya), kakak temannya. Lebih lanjut Intan ngomong, pemerkosaan ini enggak nyebabin dia hamil. Keluarganya tidak dia beritahu, dan kehidupannya selanjutnya berjalan ‘normal’.
Kemudian…. ah, biarlah Intan sendiri yang bertutur. Nih, rekamannya:
Ais…. Pak Arjuna begitu antusias dan perhatian banget dengan ceritaku. Dia bisa memahami aku, memberiku dukungan dan semangat. Dia juga memberiku acungan jempol karena aku tetap ada di jalurku, tidak merusak diriku, meskipun aku tahu aku sudah tidak utuh….
Semakin hari, keakraban antara aku dan Pak Arjuna terjalin, hingga tanpa aku minta dan aku duga, Pak Arjuna menceritakan juga kisah hidup dan pribadinya padaku. Bayangkan, Ais, seorang guru…. cerita ke muridnya tentang suatu masalah pribadi yang teman2 dan orang terdekatnya pun tidak tahu. Pak Arjuna bilang, “Kau titipkan satu kisah kelammu dan percayakan aku menyimpan rahasiamu. Aku pun ingin menitipkan kisah kelamku agar kau menyimpan rahasiaku juga.”
Ais…. Pak Arjuna [dulu] punya dua istri. Istri pertama, Mbak ‘Eka’ (bukan nama sebenarnya), saat itu di LN. Ia jadi TKW di sana. Bukan karena cari duit, tapi cari kata CINTA dari Pak Arjuna, yang tidak pernah Pak Arjuna ungkapkan padanya. Istri kedua, Mbak ‘Dwi’ (bukan nama sebenarnya), sudah dicerainya dengan satu anak pula. Pak Arjuna bilang tidak mencintai keduanya. Mbak Eka dan Mbak Dwi itu teman kuliahnya, dan mereka berlomba untuk dapatkan cintanya. (PD banget ya, dia?)
Sebelum nikah, Mbak Eka menyerahkan tubuhnya pada Pak Arjuna, lalu menikahlah mereka. Belakangan Pak Arjuna tahu bahwa Mbak Eka pernah ML juga dengan cowok lain, maka Pak Arjuna marah. Tapi, Mbak Eka sangat mencintainya, dan minta maaf. Bahkan dia sampai memberi kesempatan atau ijin pada Pak Arjuna untuk menikah lagi, sebagai bukti dia tulus mencintai Pak Arjuna, dan rela dimadu karena kesalahan masa lalunya.
Pak Arjuna pun menikahi Mbak Dwi, yang juga dia hamili sebelum dinikahi. Mbak Eka marah, begitu tahu Mbak Dwi yang dipilih. Ia marah banget karena sejak kuliah dulu, Mbak Dwi lah saingannya untuk dapatkan Pak Arjuna. Tapi, karena Mbak Dwi sdh hamil, mau apa lagi? Pak Arjuna menikah dengan Mbak Dwi tanpa setahu mertuanya / ortu Mbak Eka, hanya dengan ijin Mbak Eka.
Begitu anak Mbak Eka lahir, Pak Arjuna diterima jadi PNS dan harus punya istri satu [saja], maka harus dicerai salah satunya. Dicerailah Mbak Dwi, walau saat itu Mbak Dwi sudah melahirkan juga. Tapi, apa mau dikata… Mbak Dwi juga tahu dia salah merebut istri orang…..
Sejak itu hub Pak Arjuna dengan Mbak Eka tdk baik, hingga Mbak Eka pergi ke luar negeri jadi TKW dengan harapan agar Pak Arjuna mengakui dan mengatakan bahwa Pak Arjuna mencintainya….
Itulah cerita yang dititipkan Pak Arjuna pdku. Dari situ semakin tumbuhlah rasa simpati dan kagum serta kasihan dariku u/ dia Ais…. Ternyata kehidupan tdk mulus juga baginya. Tapi dia bisa menjadi guru yang tegar, tegak, dan tetap tenang…. Aku salut….
Kemudian Pak Arjuna sering ngajak aku ke warnet, buka email Mbak Eka, membalas surat2nya, dll….. Aku jadi merasa dibutuhkan Pak Arjuna, krn dia sering curhat padaku, apa pun masalahnya.
Ais…. entah kenapa, aku dan Pak Arjuna merasa saling membutuhkan, saling curhat dan menasehati, juga memberi solusi tiap masalah kami, tanpa aku menyadari dia sudah beristri, dan istrinya jauh lagi…. Sangat membahayakan, bukan, kedekatan kami? Andai aku sadari itu dari dulu Ais… tentu tak begini jadinya aku. Tapi mungkin itulah kehendak ALLAH, dan itu akibat kesalahanku, juga kecerobohanku……
Aku ingat sekali waktu itu menjelang liburan panjang Idul Fitri. Temen2 udah pada pulang kampung, aku di kos sendiri….. Pak Arjuna datang. (Dia telah biasa datang ke kos, dan ibu kos mulai curiga juga.) Mau tahu dia minta apa, Ais? Dia minta tolong aku untuk bantu koreksi hasil semesteran kami (aku dan kawan2, muridnya)! Bayangkan, aku koreksi hasil ujian teman2ku…. Akhirnya aku mau juga. Kami keluar dan mengerjakannya di serambi masjid kampusnya…. Di situ Pak Arjuna menawari aku untuk main ke rumah ‘Wati’ (bukan nama sebenarnya), temenku [yang juga muridnya dan sama2 naksir Pak Arjuna], setelah lebaran… dan aku menyetujuinya. [Rumah Wati di desa yang jauuuh.] Itulah ‘keberanianku’ (kebodohanku) yang [belakangan] aku sesali tapi tak ada gunanya, karena sudah kulakukan.
Idul Fitri di rumah [di sebuah kota yang tidak begitu besar]… biasa, hambar. Bahkan aku tidak bersalaman atau minta maafan dng kakak2ku…. Aku cuek aja, juga mereka…. Parah, khan, keluargaku?
Saat di rumah itu aku mendapat kabar bahwa Tono (yg pernah perkosa aku) akan menikah [usai lebaran, beberapa hari sebelum tahun baru]…. Betapa hancurnya hatiku, Ais. Walau aku membenci dia dan tidak mencintainya, sudut hatiku merasakan pedih. Kenapa begitu mudah dan gampangnya seorang cowok melupakan semua kejadian yang merenggut kehormatan cewek, hanya karena aku tidak menuntutnya…. Tono mengajak ketemuan, reuni sama temen2, aku dan yang lain, saat tahun baruan, tapi aku sudah janjian dengan Pak Arjuna [main ke rumah Wati], maka… aku bilang aku mau ke luar kota, sudah janjian dengan teman.
Dengan hati kalut aku datang menemui Pak Arjuna, tapi kami tetap berangkat ke rumah Wati, naik sepeda motornya. Aku masih canggung, Ais…. Aku duduk aja di ujung boncengan, sampai Pak Arjuna bilang, berat kalau aku cara boncengnya seperti itu. Jaraknya jauh [ratusan kilometer!]…. Katanya, “Kalau di kelas anggap aku gurumu. Tapi di luar itu, tidak ada guru dan murid. Adanya aku dan kamu.” Akhirnya, aku beranikan juga pegangan dia, Ais, melingkarkan kedua tanganku ke pinggangnya. Rasanya panas-dingin.
Sampai di rumah Wati, kulihat sirat cemburu di matanya. Tapi, entah setan apa yang merasuki aku dan Pak Arjuna, kami semakin terlihat akrab dan bagai pacaran…. sampai tetangga Wati menyangka kami suami-istri. Semalam kami menginap di rumah Wati [di kamar yang berbeda].Malamnya, saat ada kesempatan berdua saja, aku dan Pak Arjuna jalan2 di pinggir sawah…. gelap…. (tapi asik buat berduaan… iya khan, Ais?). Dan Pak Arjuna bilang, “Apakah hubungan kita akan terus seperti ini?” Dia bertanya padaku, “Apa kau tidak takut?” Waktu itu yang ada dalam pikiranku: aku sangat simpati padanya, mengaguminya, kasihan dan ingin membantu serta bahagiakan dia. Makanya aku jawab, “Aku yakin Bapak orang baik.” Lalu tanpa kuduga, dia cium keningku dan tanganku. “Terimakasih,” katanya, “semoga aku bisa seperti yang kamu kira.” Dan aku tidak memahami kata2nya itu.
Esoknya kami pulang, tapi aku tidak mau pulang ke rumah. Diminta menghadiri pernikahan Tono, aku tak mau. “Tidak!” aku bilang pada Pak Arjuna, “turunkan aku di terminal dan tinggalkan aku.” Tapi, Pak Arjuna sangat menghawatirkan kegoncangan batin dan emosiku. Dia tidak mau menuruti apa mauku. Akhirnya, kami justru jalan2 ke telaga, sebuah tempat wisata yang cukup terkenal.
Aku menangis di sana, di bahunya. Aku sedih mengingat Tono dan perlakuannya. Aku marah sekali… sampai Pak Arjuna mendekapku u/ tenangkanku. Di sanalah kurasakan segala awal kedekatan kami… betapa dekatnya kami… walau sangat tabu bagi seorang guru dan murid, apalagi dia sudah berkeluarga.
Akhirnya aku menerima tawaran Pak Arjuna untuk ikut kembali ke kotanya. Katanya, lebih baik dia menjagaku daripada melepasku di terminal sendirian dalam keadaan emosi dan goncang…. Aku menurut dan [karena capek naik motor] kami menginap di hotel. Sebelumnya dia tanya, “Intan, kamu tidak takut?” dan sekali lagi jawabku, “Aku yakin Bapak orang yang baik.” Dan semua terjadilah….
Bisa ditebak apa yang terjadi. Pak Arjuna yang hampir 7 bulan pisah dari istrinya… tidur seranjang denganku. Saat itu aku tidak merasa bersalah. Pikirku waktu itu, toh aku sudah tidak suci lagi, dan Pak Arjuna bilang, dia ingin membuka hatiku, menunjukkan padaku bahwa [hubungan] sex tidak sesakit dan semenakutkan seperti yang ada di benakku. Tapi, jujur aku bilang… [itu ternyata] sakit! Sakit sekali! Bahkan sampai berhari-hari masih terasa sakitnya!
Aduh! Aku pun ngerasa sakit. Tertegun. Padahal ceritanya itu baru setengah jalan. Baru yang sakit lahiriah, belum yang sakit batiniah. Bagian paling serunya, dan jauh lebih menyakitkan, baru akan kita simak di episode mendatang. Tapi, kini mataku ‘dah berkaca-kaca.
Telah tampak kerusakan di darat dan di laut karena ulah manusia. Ia [Allah] akan menjadikan mereka merasakan akibat perbuatan mereka, supaya mereka kembali [ke jalan-Nya].
Katakanlah: “Mengembaralah kamu di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan mereka yang terdahulu. …” (ar-Rûm [30]: 41-42)
Mo tau kelanjutan kisah si Intan? Pengen ngerti seberapa berat penderitaan batinnya? Penasaran? Sabaaar! Ako mo tau dulu, dalam posisi gimana kamu sekarang. Baca sambil tiduran? Semoga tidak. Soalnya, tiduran itu cara terburuk buat ngelakuin tafakur (kecuali kalo lagi sakit en bisanya cuman tiduran). Baca sambil nonton teve ato ndengerin radio/tape/CD? Sambil makan-minum, ngerumpi, ato ndengerin kuliah/khutbah yang nyebelin? Stop!
Mau merenung apa mau melamun? Kalo emang mo merenung, waktu terbaiknya adalah saat2 paling hening. Bila detik ini bukan masa heningmu, tutup dulu surat terbuka ini. Lanjutin bacanya ntar malem aja, usai kau tidur secukupnya. Bangunlah pada dini hari (sepertiga malam terakhir). Jangan berdalih sulit bangun sebelum subuh. Arloji bèker dengan alarm yang bunyinya memekakkan telinga gampang didapat. Milikmu dah rusak? Beli lagi ato pinjem dulu, dong!
> Kalo dengan bèker itu masih sulit bangun?
Pasang tujuh sekaligus! Empat di pojok kamar, satu di atap rumah, satu di pojok halaman, satu di pinggir jalan depan rumah. Dijamin, kau pasti terbangun oleh omelan orang sekampung. Hehehe…. (Sori, saranku kali ini ngawur. Eh, Dik, kamu tanya beneran ato ngetes doang sih?)
> Mmmmmmm……..
Stop, stop, stop! Kok masih baca? Saat ini bukan masa terheningmu.
> Zzz… zzz… zzz….
About this entry
You’re currently reading “Cinta Dicari, Sakit Didapat (I),” an entry on Pacaran Islami? Siapa Takut!
- Published:
- 17 April 2007 / 16:28
- Category:
- 1 - Tafakur
- Tags:
- pacaran islami

Comments are closed
Comments are currently closed on this entry.