Cinta Dicari, Sakit Didapat (II)

> Kriiiiing… kriiiiing… kriiiiing…. Gdubrak!!

Naaah, gitu dong! Dah, sana! Buruan bersihin jiwa-ragamu dengan air wudhu. Kedinginan? Pake air hangat! Kemudian shalat tahajudlah beberapa rekaat sebelum tafakur. Libur ‘M’ [haid]? Gantilah shalat itu dengan doa2 ‘sesukamu’ (yang paling membuatmu khusyuk).

Sudah? Oke. Ambillah lagi surat terbuka ini, lalu duduklah di tempat terbaik. Hey… Bukan di atas kursi. Kembalilah ke tempat kau bershalat (atau berdoa) tadi. Posisi terbaik untuk tafakur adalah duduk di atas sajadah (alas shalat). Siap? Niiih… episode II. Baca dan renungi baik2, ya!

Ais…. aku kembali ke rumah di pengujung tahun. Aku sudah pasrah, bahkan ada sedikit kebahagiaan di hatiku, bisa bahagiakan Pak Arjuna. Malah aku sudah memutuskan mencintainya, menerima semua perhatiannya. Diriku menjijikkan, bukan, Ais?

Malamnya seorang temenku, adik Tono, menjemputku. Katanya, anak2 ngumpul di rumahnya, reuni dan rayain tahun baru, sekalian Tono akan bilang sesuatu…. Mau tahu apa yang Tono katakan, Ais? Di hadapan keempat temanku yang tahu kasus perkosaaan itu, Tono bilang, “Aku memang telah tahu semua sisi tubuh Intan. Tapi, jujur, demi ALLAH, aku tidak melakukan perkosaan. Intan masih suci, dan aku bersedia mengantar dia ke dokter untuk tes virginitas.”

Bagai disambar petir, Ais…. Kiamat dunia bagiku telah terjadi. Beribu bintang ada di mata dan kepalaku….. Aku… aku… masih… suci… dan kemarin malam… aku… dan Pak Arjuna…. Ah! Hanya jarak satu malam aku serahkan kesucianku pada Pak Arjuna…. Andai Tono katakan itu dari dulu….

Mungkin Ais bertanya, siapa tahu Tono bohong. Tapi, Tono yakin mau ajak aku ke dokter, sementara jelas aku menolak, karena kemarin aku sudah lakukan ‘itu’…. Dulu saat bersama Tono itu aku masih bodoh! Aku tidak tahu rasanya orang habis ‘begituan’. Yang kutahu, saat itu aku sudah telanjang di pelukannya [setelah beberapa jam tak sadar akibat mencicipi minuman keras]. Bayangkan Ais….

Mendengar penjelasannya itu, aku pengen bunuh diri. Aku ucapin makasih pada Tono dan segera pulang. Aku sudah siapkan silet, aku sudah mau minum racun, tapi wajah Pak Arjuna selalu terbayang… Ais, aku tidak ingin dia merasa bersalah jika tahu aku mati bunuh diri….

Akhirnya kutemui Pak Arjuna esoknya. Dia juga kaget, tapi dia bilang, “Aku sudah merasa… kamu masih suci saat aku melakukannya.” Ais, aku menangis sejadinya. Aku marah! Membenci diriku! Membenci Pak Arjuna dan semuanya! Tapi… kembali Pak Arjuna mengembalikan kesadaran dan emosiku. Pak Arjuna bilang, itu salahnya juga. Dia tetap akan melangkah di sisiku, menemaniku, dan tidak akan meninggalkanku. Pak Arjuna bilang, dia menyayangiku… tapi belum bisa beri cinta, apalagi harta, karena dia tidak ingin memberiku harapan muluk untuk menikahi aku. (Yang kaya itu Mbak Eka, bukan dia.)

Pak Arjuna tidak bisa putuskan sendiri karena ada Mbak Eka dan anaknya, juga keluarganya. Mertuanya saja belum tahu soal Mbak Dwi, bagaimana jika tahu ada aku? Aku luluh, Ais…. aku pasrah… Aku bilang, “Aku tidak minta CINTA, HARTA atau pengakuan, tapi aku butuh kasih sayang dan perhatian.” Itu yang menjadi komitmen aku dan dia, dan komitmen itu menjerumuskan aku ke lembah kenistaan….

Sejak itu aku menjadi ‘sephia’, ‘wanita simpanan’-nya. Aku hidup bagai istrinya, Ais…. Aku merasa seperti istrinya, tanpa beban dosa…. Sekali aku terpuruk. Saat Mbak Eka cuti pulang seminggu, baru aku sadar aku hanya bayang2, apalagi Pak Arjuna belum mau bahas dengan Mbak Eka tentang masalahku. Aku marah tapi akur kembali…. Bahkan saat Mbak Eka ada di rumah, dia masih mengunjungiku dan tidur denganku…. Sekali aku hamil, telat mens 3 minggu, tapi aku gugurkan. Dia mungkir dan tidak percaya, bahkan menuduh aku melakukannya dengan orang lain, tapi akhirnya tetap aku kembali ke pelukannya. Itu berulang kali, Ais, tapi aku tetap setia, berharap dia akan menikahiku jika sudah siap. Yach, aku memang sangat mencintainya.

Lulus sekolah, aku sudah lupa dengan cita2 dan harapan ortu. Aku malas ngelanjutin kuliah. Aku sudah mikir kehidupan Rumah Tangga dengan Pak Arjuna, krn Mbak Eka akan kembali ke Indonesia selamanya. Alhamdullillah aku dapat kerja…. [di kotaku].

Hubunganku dengannya tetap berlanjut tanpa kepastian sampai tiga tahun, Ais…. Jatuh-bangun aku alami, marah2, kembali lagi, saling mencaci tapi kembali lagi… terus seperti itu, seolah aku tak berdaya menghadapi kedewasaannya, janjinya, mengulur waktu dan ketidak-siapannya, bahkan sampai Mbak Eka hamil lagi. Entah berapa kali aku hampir bunuh diri dan gila, Ais….

Tiga tahun aku terjerumus… tanpa tahu pada siapa harus bertanya dan mengadu. Keluargaku tak ada yang tau, juga teman2ku…. Aku masih setia dengan Pak Arjuna, tidak mencari pacar walau aku tahu aku bisa. Aku selalu bilang aku sudah punya pacar, bahkan tunangan, hingga tak ada yang berani lagi mendekatiku. Hanya Pak Arjuna yang aku harapkan….

Aku sebulan sekali ke kotanya [sekitar dua jam perjalanan], menemuinya di sela2 kelelahan kerjaku dan kepenatan hati…. Dia tetap memberiku dukungan untuk tetap tegar bekerja…. Tapi tentang hubunganku dengannya tak pernah dia singgung sedikit pun…. Dia selalu punya alasan dan membungkamku dengan berbagai alasan….

Semua berakhir saat SMSku diketahui Mbak Eka. Dia tahunya aku mantan muridnya, dan kemudian dia cerita banyak padaku tanpa setahu Pak Arjuna. Katanya, Pak Arjuna masih saja sering punya perhatian lebih pada muridnya. Bahkan ada muridnya yang sampai datang ke rumahnya menemui Mbak Eka, bilang mencintai Pak Arjuna. Mbak Eka mengadu habis2an pdku… tanpa dia tahu aku pun menangis menjerit di sini [di dalam hati].

Dulu sebelum Mbak Eka pulang dan menetap kembali di Indonesia, aku sudah bikin janji [dengan Pak Arjuna], aku tetap diam tanpa minta pengakuan, asal dia jangan punya sephia lagi, setia pd Mbak Eka, dan jangan memberi harapan berlebih pada cewek lain dengan perhatiannya. Dia mau janji Ais… waktu itu. Tapi kini… ternyata semua janjinya BOHONG! Aku merasa sakit, sama dengan Mbak Eka, aku merasa sekali …

Ais, aku sangat menghormati dan mengasihi Mbak Eka. Aku merasakan betapa mulianya Mbak Eka dan betapa jahatnya aku… merebut suaminya. Dan… aku nekat jujur pada Mbak Eka, siapa aku: SEPHIA suaminya selama 3 thn ini! Mulanya dia marah, tapi lama2 kasihan juga padaku, dan memahami aku…. Dia akan memperjuangkan hakku, dia mau berbagi denganku. Aku diminta sabar…. Mbak Eka akan cari waktu yang tepat untuk membicarakannya dengan suaminya, Pak Arjuna. Aku sudah mantap, Ais. Kalaupun Pak Arjuna marah, aku siap. Aku dendam banget. Aku setia di sini 3 tahun dengan segenap ketegaran dalam keletihan…. eh… dia malah belum sembuh2 main cewek! Aku sakit hati sekali….

Mau tahu hasilnya, Ais? Baru sebulan yang lalu…. Ternyata Pak Arjuna menolak mentah2 tuduhan Mbak Eka. Dia menyangkal semua ceritaku. Dia bilang, bukan tanggung jawabnya soal kehidupanku. Katanya, tidak hanya dia yang meniduriku.

Mbak Eka mulai terpengaruh… tapi dia bilang akan menemukan kami bertiga, dan saling cerita. Aku salut dengan Mbak Eka yang tidak begitu saja percayai suaminya. Aku sangat menyayangi Mbak Eka, walau baru 2 mgg ketemu lewat sms. Di hatiku aku lebih menyayangi Mbak Eka daripada Pak Arjuna.

Jam 9 malam aku berangkat ke kotanya, memenuhi undangan Mbak Eka untuk cari penyelesaian. Di hatiku aku sudah memutuskan, aku tidak akan lagi menuntut untuk dinikahi. Aku tidak tega menyakiti hati tulus Mbak Eka. Aku akan tanggung semua aib ini, biar… demi Mbak Eka, dan dua anaknya….

Sampai di kota mereka, tapi belum sampai di rumah mereka, apa yang terjadi, Ais? Pak Arjuna menolak kehadiranku! Lewat tlp ke hpku Mbak Eka bilang, jika aku nekat datang, dan dia nekat mempertemukan kami bertiga, Pak Arjuna akan pergi dari rumah itu dan tidak akan kembali untuk selamanya…. Bayangkan, Ais… Mbak Eka mohon padaku, demi anak2nya, jangan datang dan jangan permasalahkan lagi, walau Mbak Eka sendiri ingin mati rasanya mengetahui semua ini…..

Ais… dengan air mata berderai aku telp Mbak Eka, yang didengar Pak Arjuna juga…

Oke…. aku pasrahkan semuanya. Aku tak pernah menyangka Pak Arjuna sejahat dan sekejam itu. Tapi aku tidak menuntut, karena memang aku yang salah, yang bodoh. Aku harap pada Mbak Eka, lupakan masalah ini, anggap sama sebagai masa lalunya Pak Arjuna dengan Mbak Dwi dulu. Demi anak2 dan Mbak Eka… aku relakan, ikhlaskan. Sungguh aku tidak ingin lagi dinikahi…. walau mungkin Pak Arjuna mau.

Samar2 kudengar Pak Arjuna bilang, “Ra sudi!” [Omongan kasar ini bermakna “Tidak mau!”] Hatiku sakit, Ais…. sakit! Aku tak menyangka semua begini jadinya setelah tiga tahun kukorbankan segalanya. (Rahimku masih sering terasa sakit akibat pengguguran dulu.) Saat itu kudengar juga tangis anak keduanya, masih bayi. Hatiku bener2 hancur, Ais… merasa paling jahat dan hina…. Aku bilang pada Mbak Eka…..aku titip Pak Arjuna mba…..jaga dia baik2….

Sejak itulah aku menghapus cintaku pada Pak Arjuna, menghilangkan semua asa untuk dijadikan istrinya. Yang ada hanya bayangan Mbak Eka dan dua anaknya, serta keangkuhan Pak Arjuna yang seolah tersenyum menang dengan sederet cewek di sekelilingnya. Kini aku pasrahkan semuanya pada ALLAH…. Semoga Mbak Eka tabah, sabar, dan diberi kekuatan, serta Pak Arjuna segera insaf akan semua kekhilafannya dan segera bertobat….

The end. Cerita berakhir…. Itu bukan sinetron, Non! Itu kisah nyata. Sungguh2 terjadi, sungguh2 menyayat hati. Jangan cuman mendesah, jangan bengong doang! “Perhatikanlah bagaimana kesudahan mereka yang terdahulu.” (ar-Rûm [30]: 42)

Itulah sebagian dari berita negeri-negeri yang Kami kisahkan kepadamu; di antara itu ada yang masih kedapatan bekas-bekasnya dan ada [pula] yang sudah terkikis [oleh waktu].

Kami tidak menganiaya mereka, tetapi mereka yang menganiaya diri sendiri. Sedikit pun tak berguna buat mereka sesembahan-sesembahan yang mereka seru selain Allah, tatkala datang keputusan Tuhanmu.

Demikianlah tindakan Tuhanmu jika menghukum negeri-negeri yang [orang-orang di dalamnya] melakukan kejahatan. Sungguh hukuman-Nya sangat pedih.

Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat pelajaran bagi orang-orang yang takut akan azab Hari Kemudian. … (Hûd [11]: 100-103)


About this entry