Kenali dan Rumuskan Pertanggungjawaban!
Dik Ayu… Agar kita lebih yakin dapat mempertanggung-jawabkan pilihan kita, kupikir sebaiknya kita siapkan ‘proposal’ kita sejelas-jelasnya. Mo contoh? Nih… Kebetulan sekarang ada seorang pemuda sahabat kita yg bermaksud ‘nembak’ kamu melalui surat terbukaku ini. (Kendati dalam contoh ini pihak lelakilah yang ‘nembak’, boleh2 aja wanita ‘nembak’ pria.) Setelah nampilin ‘tembakan’-nya ini, aku mo ngasih contoh analisisku buat kamu. Mau, kan?
Contoh Proposal Pacaran Islami
Assalâmu ‘alaikum wa rahmatullâh wa barakâtuh.
Dik Ayu, apa kabar? Sering kambuhkah sakit migrainmu sejak kita berpisah? Jika iya, jangan anggap enteng, ya. Emang, sih, kamu tahan derita. Tapi sayang, kan, kalo pengerahan sebagian potensimu tak bisa optimal gara2 gangguan di kepala.
Mo nyembuhin migrain? Ke alamat emailmu, Dik, ku pengen ngirimin e-book ttg cara efektif nyembuhin migrain. Tapi alamat imelmu dah ganti lagi.
Tantangan
Adikku, kini aku kehilangan jejakmu di dunia maya. Padahal, ada satu hal penting lain yang kurasa perlu kukemukakan padamu. Makanya aku minta tolong mbak Ais agar nyisipin suratku ini di surat terbukanya, karena setahuku kau slalu ngebaca surat terbukanya.
Bisa aja sih, kukirim surat via pos ato kudatang langsung ke rumahmu. Tapi kau tau sendiri, kan, gimana sikap keluargamu padaku. Aku dah dicap sebagai lelaki ‘pengganggu anak gadis orang’. Aku khawatir suratku yang kuposkan ke rumahmu bakal langsung teronggok di tong sampah sebelum sempat masuk rumah kalian. Nekat bertamu? Bisa2 ketukanku di pintu rumah kalian akan langsung dibalas dengan ketokan di jidatku.
Aku sadar, sungguh menganga jurang perbedaan status (kedudukan) kita di mata orang2. Wajar kiranya bahwa keluargamu mencemaskan masa depanmu bila kau terlihat ‘dekat’ denganku. Lumrah pula bila kau khawatir, andai kedekatan kita diketahui orang2, maka akan ternodalah nama baik keluargamu. Nevermind. Aku maklum, Dik. Apalagi, tampaknya kau (dan keluargamu) belum begitu mengenali pola pacaran Islami gimana yg kuanut. Bagiku yg punya banyak kelemahan dan kekurangan, tiga minggu pacaran ‘resmi’ denganmu (sebelum kau putus hubungan kita) itu masih jauh dari mencukupi tuk nunjukin pacaran Islami gimana yg kumau jalani bersamamu. (Inilah satu sebab kenapa kupinta suratku ini disisipin di surat terbukanya mbak Ais, di Surat 7, di tempat sesudah ia terangkan jalan2 pacaran Islami.)
Dik, kau berpendapat, tak mungkin kita hanya sekedar bersahabat. Ya, aku sependapat. Sudah begitu mendalamnya rasa cinta kita satu sama lain, terutama cintaku padamu, membuat hubungan persahabatan kita pasti diwarnai dengan ekspresi2 cinta (walau tidak selalu kentara), sehingga ‘tak ada bedanya’ dengan pacaran. Karenanya, maklumlah aku mengapa kau berpikiran bahwa tiada jalan keluar sama sekali selain putus total segala hubungan kita. Namun, dengan proposal kali ini, kepadamu aku bermaksud menawarkan jalan lain yang kuyakin lebih baik bagi kita semua.
Peluang
Kekasihku, mungkin kau gemas atau gusar padaku. (Mudah2an enggak.) Dua-setengah tahun sudah kita ‘bercerai’. Lebih dari tujuh kali kau tolak ‘proposal’-ku tuk ‘rujuk’ denganmu. Tapi tak jemu2nya aku bermohon padamu. Aku sadar, kau sepenuhnya berhak untuk selalu menolak permohonanku. Namun kupikir, aku pun berhak menyempurnakan proposalku (yang selalu mengandung kekurangan, sehingga senantiasa bisa diperbaiki) dan kemudian mengajukannya lagi dan lagi kepadamu.
‘Kengototanku’ itu terilhami antara lain oleh ayat: “Hai orang-orang yang beriman! Bertaqwalah kepada Allah, carilah jalan untuk mendekatkan diri kepada-Nya, dan berjuanglah di jalan-Nya supaya kamu berhasil.” (al-Mâ’idah [5]: 35)
Kita tahu, Dik, sebagian orang merasa lebih dekat kepada-Nya dengan menyaksikan keagungan-Nya melalui ciptaan-Nya, yaitu bintang2 yang beredar secara teratur dan tak terhitung jumlahnya. Ada pula yang semakin kuat imannya dengan mengamati keindahan alam atau pun dengan menemukan jejak2 kehidupan dari masa lalu, dll. Kita tahu pula, keberadaan kekasih tak jarang membuat manusia lupa kepada-Nya.
Tapi, keadaan aku yang paling dekat dengan-Nya adalah ketika kurasakan adanya dirimu dalam hidupku. (Kalau kauragukan pernyataanku ini, periksalah kebenarannya secara ilmiah, antara lain dengan menginterviu semua orang yang ada dalam lingkungan hidupku sehari-hari.) Kehadiranmu dalam kehidupankulah yang paling menyadarkan aku betapa agungnya Allah SWT yang menciptakan seorang wanita yang teramat indah, yaitu dirimu: Dik Ayu. Bisa saja aku mencari jalan lain untuk mendekatkan diri kepada-Nya. Dan memang aku telah menempuh jalan2 lain dan tidak meninggalkannya, termasuk saat kau hadir dalam kehidupanku. Namun, aku ingin kita lebih dekat dan semakin dekat lagi dengan-Nya. Ini paling mungkin terjadi bila kita lebih saling mendekat, Dik, sedekat-dekatnya, sedekat yang bisa kita capai sesuai dengan keadaan kita. (Pada dua kalimat terakhir ini aku menggunakan kata ‘kita’. Ini karena kulihat kamu pun bisa menjadi lebih dekat kepada-Nya dengan kehadiranku dalam kehidupanmu, seperti yang pernah kau akui.)
Sayangku, aku menerima argumentasimu dalam menolak proposalku terdahulu. Katamu, “Mas, kau memang anggur yang menggiurkan, tetapi yang kubutuhkan adalah pisang.” Oke. Kuakui, selama ini aku bukan pisang bagimu, Dik. Aku kurang mampu memenuhi kebutuhanmu. Namun, paling tidak, kumohon berilah aku kesempatan yang lebih lapang untuk menjadi pisangmu. Dibandingkan tumbuhan, manusia lebih mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan, kan?
Aksi & Interaksi
Dik Ayu, barangkali kau tak yakin, jalan manakah di antara tiga jalan pacaran Islami (maksimalis, minimalis, optimalis) yang dapat menjadikan aku pisangmu. Ya, aku mengerti betapa peliknya problem kita. Namun, aku yakin, solusi terbaiknya adalah mengkombinasikan tiga jalan tersebut sekaligus, dengan mengambil bagian demi bagian yang cocok dengan keadaan kita.
Kita dapat menerapkan jalan Islami-Maksimalis untuk membatasi atau menghindari interaksi tatap-muka kita. Artinya, kita batasi perjumpaan kita seketat-ketatnya. Kalau perlu, aku dapat membuat pernyataan tertulis bermaterai bahwa aku tidak akan mendekati posisi kamu dalam radius 100 kilometer. Pembatasan ini bukan karena aku khawatir kalau2 kita akan mendekati zina bila kita berdekatan secara fisik. Toh salah satu ciri kepribadian kita adalah sama2 lemah dalam hal sensing (penginderaan), sehingga gejolak syahwat kita tidak terlalu dipengaruhi oleh pancaindera. Pengetatan ini bukan pula karena tiada dayatarik seksual pada dirimu di mataku. Biarpun pikiran-sadarku mampu mengendalikan gairahku, pikiran-bawah-sadarku tentang kecantikanmu membuatku beberapa kali bermimpi-basah. Pembatasan yang kuusulkan ini semata-mata agar kau lebih merasa aman dari kemungkinan fitnah dan agar keluargamu lebih merasa tenang mengenai masa depanmu.
Dik, aku tidak hendak mendesakmu untuk ‘resmi’ pacaran lagi denganku. Aku hanya memohon padamu untuk dapat menjalin dan memelihara hubungan persaudaraan denganmu. Bagaimanapun, kamu saudaraku sesama muslim. Aku pun saudaramu pula, kan? Emang sih, dalam persaudaraan ini, ekspresi2 cinta antara kita tak terelakkan, sehingga ‘tak ada bedanya’ dengan pacaran. Namun, apa salahnya? Ingatlah keadaan serupa di waktu lalu, selama enam bulan sebelum kita jadian. Saat itu kita juga bersaudara dan sering diwarnai dengan ekspresi2 cinta (yang tidak selalu kentara). Kita sama2 telah terbukti menjadi pencinta yang mampu mengendalikan hasrat untuk saling ‘memiliki’, bahkan termasuk ketika kita udah ‘resmi’ pacaran. Karenanya, kumohon pertimbangkanlah untuk menghidupkan kembali persaudaraan yang diwarnai cinta antara kita. Tidak berlanjutnya persaudaraan kita ke arah pernikahan bukanlah persoalan bagi kita, kan?
Bungaku, memang mustahil atau hampir mustahil hubungan kita berlanjut ke pernikahan. Karenanya, marilah kita terapkan pula jalan Islami-Minimalis. Maksudku, marilah kita berorientasi pada jalinan hubungan. Di jalan ini, kita utamakan keakraban batiniah. Cinta adalah perasaan, sedangkan salah satu ciri kepribadian kita adalah sama2 kuat dalam hal feeling (perasaan), disamping sama2 lemah dalam hal sensing (penginderaan). Oleh sebab itu, saling mengekspresikan rasa cinta, meskipun melalui komunikasi jarak-jauh (bermedia), tidaklah menyulitkan kita.
Sementara itu, karena kamu bertipe nomor 2 dalam sistem Enneagram (lihat buku Kepribadian Romantis Yang Mengasyikkan terbitan Bunda Yurida), energi cintamu padaku dapat dengan mudah kau alihkan untuk menyayangi banyak orang. Sebaliknya, selaku orang yang bertipe nomor 4, sulit bagiku untuk tidak mengungkapkan segenap rasa cintaku kepada wanita idamanku, yaitu dirimu: Dik Ayu. Hubungan akrab denganmu, bidadariku, merupakan salah satu kebutuhanku yang paling penting.
Oleh sebab itu, kuakui bahwa tidak seperti aku, kamu tidak begitu membutuhkan jalinan hubungan antara kau dan aku. Sekalipun begitu, bukan berarti hubungan persaudaraan kita tidak ada gunanya bagimu. Dengan menerima ekspresi cintaku yang mendalam, insya’ Allah kamu menjadi lebih penyayang dalam memperlakukan banyak orang. Kemaslahatan hubungan kita ini akan semakin meningkat bila kita terapkan pula jalan Islami-Optimalis. Maksudku, kita jalin hubungan bukan sekedar demi kepentingan kita sendiri, melainkan yang lebih penting adalah untuk menjadi rahmat bagi semesta alam.
|
… setidak-tidaknya kita bisa menjadi pasangan pejuang di jalan dakwah yang kompak dan berenergi besar … |
Bila kita mustahil dapat menjadi pasangan suami-istri, setidak-tidaknya kita bisa menjadi pasangan pejuang di jalan dakwah yang kompak dan berenergi besar lantaran saling mencintai dan saling melengkapi. Dik Ayu, ingatlah betapa besar produktivitas dakwah kita yang dihasilkan dari masa ‘pacaran’ kita di waktu dulu, baik yang ‘resmi’ maupun ‘tak resmi’, walau hanya berlangsung sebentar. Apalagi kita merambah sebuah jalan dakwah yang ‘asing’, yang tidak banyak dilalui oleh da’i lain. Menjauhnya dirimu dari jalan ini merupakan kehilangan besar dan layak ditangisi oleh siapa saja yang mencintai jalan dakwah.
Islah
Dik Ayu, sudah kukemukakan kebutuhanku yang dapat kau penuhi. Aku pun ingin tahu: Untuk menjadi pisangmu, apa yang sesungguhnya kau butuhkan dariku? Pernah kau nyatakan bahwa kau adalah wanita biasa yang ingin ‘memiliki’ aku seutuhnya, tapi kau ‘tahu diri’, sehingga tidak meminta apa2 dariku sama sekali. Lalu kau katakan harapanmu agar aku untuk tidak mendesakmu membeberkan apa saja kebutuhanmu yang dapat aku penuhi. Baiklah. Mudah2an Allah berkenan meningkatkan kepekaanku sehingga lebih mampu mengenali apa yang kau butuhkan dariku. (Âmîn.)
Dik, apa saja yang kau sukai, apa saja yang kau benci, semuanya masih kuingat. Namun, aku belum yakin apa saja yang membuatmu merasa tidak aman dan tidak nyaman, khususnya mengenai kedekatan kita. Karena itu, kumohon jelaskanlah serinci-rincinya dan sedalam-dalamnya, lalu berilah aku kesempatan untuk berusaha membuatmu merasa aman dan nyaman.
Tasamuh
Ya Allah! Kepada-Mu lah setidak-tidaknya proposal ini aku tujukan. Terutama kepada-Mu lah aku tunjukkan seberapa seriusnya aku dambakan Dik Ayu untuk menjadi bidadariku dunia-akhirat. Kepada-Mu kami berserah-diri. Masukkanlah kami ke dalam golongan orang2 yang bersabar setiap kali Kau uji keimanan kami kepada-Mu. Masukkanlah kami ke dalam golongan orang2 yang bersyukur setiap kali Kau anugerahi kami nikmat. (Âmîn.)
Contoh Analisis Proposal Pacaran Islami
Dik Ayu, terharu aku membaca ‘proposal’ masmu itu… Aku ingat bagaimana pusingnya kamu menghadapi persoalan ini, sampai kau terserang migrain berulang-kali… Terkesan aku pada kata2mu, “Mas, kau memang anggur yang menggiurkan, tetapi yang kubutuhkan adalah pisang.” Aku salut. Kau mementingkan kebutuhan (terutama kebutuhan orang lain) di atas kesenanganmu sendiri. Kau lebih memprioritaskan keluarga (terutama orangtua) daripada si dia…
Dik, aku pun ingat betapa merindunya masmu akan kehadiranmu. Sejak kalian ‘cerai’, masmu sering curhat padaku tentang kamu. Saat tidak curhat pun, setiap pembicaraan kami selalu ia kaitkan dengan dirimu. Juga dalam tidur, ia sampai mengigau, “Dik Ayu, I love you. Dik Ayu, I love you.” (Wow! Mimpi apa, ya, dia saat itu?)
Ketika membaca kata2 masmu, “Bila kita mustahil dapat menjadi pasangan suami-istri, setidak-tidaknya kita bisa menjadi pasangan pejuang di jalan dakwah …,” rasa2nya tak sanggup kuteruskan pembacaanku. Hik hik… Tak tega aku ngeliat sepasang merpati terbang terpencar, satu ke utara satu ke selatan. Sukaku sih nyaksiin sepasang lumba2 berenang bersisian, bersama-sama menari dengan gerak yang kompak. Tapi, sejauh ini tak mampu aku persatukan kalian. Apalah dayaku selain ngajuin tanya, info, usul, saran, dan nasihat?
Usul, saran, dan nasihat dariku mungkin tidak kau butuhkan. Barangkali cukuplah aku sampaikan pertanyaan dan informasi dalam bentuk surat terbuka ini. (Paling tidak, aku sendiri dan saudara2 kita bisa memetik hikmah dari pengalamanmu itu.) Jelas, kamu lebih tahu tentang dirimu, keluargamu, dan masmu daripada aku. Jadi, kalo pertanyaanku telah terjawab dan informasiku telah kau ketahui, anggap aja sekedar mengingatkan. Namun, jika yang kukemukakan adalah sesuatu yang baru, maka kau bisa mengambilnya sebagai bahan pertimbangan tambahan.
Adikku… Wajar, kau pinta masmu melupakanmu seperti kau berupaya menghapus dia dari ingatanmu. Bisa saja dengan ini, masalah kalian terpecahkan… Masmu tak mau leave you alone? Lumrah pula. Mungkin usaha lari dari masalah ini membuat kalian ‘memelihara’ trauma yang bakal menghantui perjalanan hidup kalian di masa mendatang.
Bila kita lihat dari sudut pandang kamu, ‘penolakan’ masmu untuk melupakanmu bisa kita anggap sebagai sikap egois. Mungkin ada kesan di benak kita, dia maksa banget. Namun, dari sudut pandang teori Enneagram, bisa kita pahami bahwa pada dasarnya dia mustahil memutus total segala macam hubungan denganmu. Bagi orang yang bertipe nomor 4, lebih2 dengan subtipe kompetitif, pemutusan total ini sama dengan ‘bunuh-diri’. Daripada ‘bunuh-diri’ secara sia2 dan tidak menghasilkan kebaikan bagi siapa pun termasuk dirimu, tentu dia memilih mengusahakan cara2 lain.
Gimana perasaanmu, Dik? Meskipun dia menolak tuntutan untuk melupakanmu, nggak usah kecewa, ya. Toh bukan berarti dia akan menampik permintaan2mu lainnya. Kita tahu, semua permohonanmu pasti diturutinya, tentu saja selain yang melanggar syari’at. (Dalam pandangan masmu, pemutusan total segala hubungan berarti pemutusan silaturrahim, dan ini melanggar syari’at, bukan?)
Dik Ayu… Apa sih yang sesungguhnya kau cemaskan? Apa yang dirisaukan keluargamu? Apakah mereka khawatir kau akan terpikat rayuan ‘maut’ masmu? Apakah mereka takut dia tergila-gila padamu (dan kemudian melarikan kamu)?
Apakah inti kecemasan itu adalah berlebihannya rasa cinta masmu kepadamu? Kalau iya, maka solusinya sederhana. Jadilah sobat kentalnya! Gitu aja deh. Mendalamnya kasih-sayang orang yang bertipe nomor 4 (si Romantis) akan berkurang ketika ada kesempatan interaksi akrab, kendati hanya dengan komunikasi jarak-jauh. (Tentu saja strategi ini takkan berhasil apabila dia bertipe-kepribadian lain.) Dengan hubungan erat, pastilah dia temukan ketidak-sempurnaanmu. (Pada tiap orang ada kelemahan, kan?) Dengan mendapati kekurangan2mu, biarlah dia lontarkan kritikan2 kepadamu. Dengan begitu, asmaranya padamu pasti tidak akan keterlaluan. Hasilnya, rasa cemas kamu atau keluargamu (bahwa jangan2 dia tergila-gila padamu) pasti berkurang. Simpel, kan?
Sebaliknya, semakin jauh kau renggangkan hubungan lahiriah-batiniah dengan si Romantis, semakin lekatlah kenangan manisnya mengenai dirimu di dalam benaknya. Akibatnya, kian mendalamlah rasa cintanya kepadamu. Justru keadaan inilah yang membuka kemungkinan kalau2 dia menjadi tergila-gila padamu.
Begitulah, Dik, segelintir tanya dan info yang melintas di kepalaku. Mudah2an bisa menjadi bahan pertimbangan pengambilan keputusan. Tentu, apa pun ketetapanmu, selalu ada dampak negatifnya disamping efek positifnya. Mana yang lebih besar? Mana yang lebih dapat kau pertanggung-jawabkan? Kau bisa memperhitungkan dengan lebih cermat dan mempertimbangkan dengan lebih mendalam segala sesuatunya. Jangan sampai ada aspek penting yang terlewatkan, bukan?
About this entry
You’re currently reading “Kenali dan Rumuskan Pertanggungjawaban!,” an entry on Pacaran Islami? Siapa Takut!
- Published:
- 17 April 2007 / 15:50
- Category:
- 3 - Taaruf
- Tags:
- pacaran islami
