Menyesal Berpacaran, Ingin Bertaubat?
Omong2, kenapa ya, banyak orang suka berkubang dosa, rela dipecundangi ama syetan. Dah tau salah, kok ya gak insaf2… Bukannya buruan tobat, eee… kok malah rajin meang-meong pasang rayuan genit, “Buruan Cium Gue”, “Satu Kecupan” aja… Glek!
> Mo nunggu azab Tuhan ‘kali. Ato nunggu tua-renta,
> pikun, onderdil pada ancur, baru start tobat.
Barangkali, yang nunda2 pertobatan itu ngefans berat ama Count Dracula. Hihihi… Maunya hidup abadi di dunia. Padahal, siapa tau matinya tepat saat seger2nya, full-energi, tapi full-dosa pula. Iiiih, b’gidik aku jadinya… Siapa tau, kita tewas lima detik lagi. (Satu… dua… tiga… empat… lima. Udah lima detik. Jantungmu masih berdenyut?)
> Mungkin juga, yang ogah2an tobat itu sok filosofis.
> Konsep adaptasi Tionghoa, ‘mei fazi’, ia salah gunakan.
> (‘Mei fazi’ = ‘apa boleh buat, habis bagaimana lagi’.)
> Katanya, “Udah basah, mandi aja sekalian.”
Iya, ya…. Jika yang ngebasahin kita tuh air zam2, oke2 aja lah. Mandi dengannya bisa bikin kulit kita semulus bintang iklan sabun mandi. Tapi, kalo keguyur seember air kencing anjing, gimana? Masak, dengan comberan ini juga kita mandinya? Harusnya dengan air lain, dong. Yang bersih, yang suci. (NB: Suci-tidaknya manusia tidak terletak pada selaput dara, apalagi bagi korban perkosaan. Kesucian itu terletak pada qalbu yang memancar ke sikap dan perilaku, kan?)
Sekarang, biarpun badanmu masih seger, pergilah ke kamar mandi. Bersihkan tubuhmu dengan komplit. Seperti mandi-wajib! (Kedinginan? Pake air hangat!) Waktu terbaik untuk introspeksi adalah tepat seusai mandi-komplit. (Mandimu lama? Gak pa pa… Aku sabar nunggu.) Tempat terbaiknya, lagi2 di atas sajadah (selembar kain atau tikar yang biasanya menjadi alas shalat kita masing2)!
Sudah? Oke… Ayo kita periksa apakah jiwa kita sebersih raga kita. Mari kita lakukan tafahus, seolah-olah kita menjadi si A yang “Menyesal Berpacaran dan Ingin Bertobat”:[i]
Saya baru menyelesaikan kuliah saya, sekarang ini sedang mencari pekerjaan. Insya Allah ingin segera dapat menikah. Sejak saya memakai jilbab di awal kuliah dulu, dan merasa semakin dekat dengan Allah swt, saya berniat untuk bersegera menikah daripada berpacaran, karena tidak ada pacaran dalam Islam. Tapi di akhir masa kuliah ternyata saya pacaran juga. Dia saya anggap dapat menuntun saya untuk lebih mengenal Islam, terlebih sejak awal tujuan kami memang pernikahan.
Dulu saya banyak membaca buku-buku Islami, terlebih yang melarang pacaran. Tapi entah mungkin kemudian saya takabur karena membela diri bahwa pacaran yang saya jalani akan aman karena tujuan kami baik, ternyata dalam perjalanan hubungan kami, kami nodai dengan dosa. Kami berdua sangat menyesalinya. Maka itu kami berupaya untuk segera mewujudkan pernikahan ini, memohon ampun dan bertobat.
Tapi sejak saat itu saya pribadi menjadi terlalu malu di hadapan Allah, saya malu membuka buku-buku Islami dan mempelajarinya lagi, bahkan belakangan saya malu untuk memohon kepada-Nya. Ia begitu banyak memberikan kemurahan-Nya. Dan balasan saya seperti ini. Apa yang harus saya lakukan? Saya tidak ingin jauh dari-Nya.
Mau taubat? Siiip. Malu kepada-Nya karena Ia begitu banyak memberikan kemurahan-Nya, sedangkan balasan kita ‘menjijikkan’? Bagus sekali! Itu pertanda kesungguhan dalam bertaubat. Pernah, seorang lelaki menghadap Rasulullah dan meminta dirajam lantaran berzina. Lalu Umar menyela, “Rajamlah orang yang mengaku berzina ini.” Tetapi Rasulullah bersabda, “Jangan, karena dia telah bertobat kepada Allah dengan tobat yang seandainya [seluruh] penduduk Madinah bertobat dengan seperti itu, pasti diterima.” (HR Bukhari & Muslim)
Pertanyaan si A, “Apa yang harus saya lakukan?” juga sangat terpuji. Apa tanggapanmu, Dik?
Nikah Secepatnya?
Nggak dikit, lho, yang menyarankan si A untuk “tidak kembali melakukan dosa yang sama, dengan mengakhiri hubungan pacaran … dan melakukan pernikahan secepatnya”. Saran2 begini tentu saja kita hargai. Namun, marilah kita berusaha memeriksa persoalan ini (melakukan tafahus) dengan lebih teliti.
Begini… Berdosakah melakukan pacaran? Tidak, ‘kan? Tidak ada nash yang mengharamkannya. Yang dosa adalah aktivitas zina (dan mendekati zina) yang diperbuat di dalam pacaran (atau pun di luar pacaran). Bila tidak mendekati zina (dan tidak melakukan perbuatan dosa lainnya), pacaran tidak dapat dikatakan berdosa.
Apakah aktivitas zina (dan mendekati zina) tidak bisa kau hindari bila kau pacaran? Kalo tak dapat kau cegah, ya jangan pacaran. Kalo kita mampu menangkal, boleh dong kita pacaran!
Tampaknya, si A ingin menghindar dari aktivitas zina (atau pun mendekati zina) yang pernah ia kerjakan di dalam pacaran. Lantas, apakah solusinya cukup dengan “mengakhiri hubungan pacaran … dan melakukan pernikahan secepatnya”? Sesimpel itukah? Efektifkah? Itukah satu2nya cara untuk “tidak kembali melakukan dosa yang sama”?
Dik Ayu, kau masih inget kasus Pak Arjuna di pasal Tafakur, kan? Mulanya dia pacaran dengan Mbak Eka dan menyetubuhinya sampai hamil. Solusi yang dia ambil, “mengakhiri hubungan pacaran … dan melakukan pernikahan secepatnya”. Kemudian, apakah dia “tidak kembali melakukan dosa yang sama”? Memang, ia tidak lagi melakukan dosa yang sama itu dengan Mbak Eka. Namun, ia melakukannya dengan wanita2 lain! (Perhatikan, Pak Arjuna dapat bersenggama tanpa disertai rasa cinta. Jadi, tanpa pacaran pun, ia tetap bisa berzina.) Bahkan, meskipun Pak Arjuna sudah menjalankan poligami, dia tetap main cewek!
Dengan demikian, terbuktilah bahwa saran “mengakhiri hubungan pacaran … dan melakukan pernikahan secepatnya” itu belum tentu efektif. (Pada situasi lain yang tertentu, segera nikah merupakan solusi jitu. Rasululullah saw. bersabda, “… kawin itu akan lebih menundukkan pandangan dan akan lebih menjaga kemaluan. …” (HR Bukhari dan Muslim).) Ingat, walau pada dasarnya sunnah, hukum nikah bisa ‘berubah’ menjadi makruh atau bahkan haram, yaitu apabila justru mengarah pada kemudharatan (umpamanya seperti yang terjadi pada kasus Pak Arjuna)!
> Pacar si A mungkin tidak sekeji Pak Arjuna.
Yup! Betul. Akan tetapi, si A sudah menyatakan “ingin segera dapat menikah” dan “terlebih sejak awal tujuan kami memang pernikahan”. Bukankah pernyataannya itu menyiratkan bahwa si A dan pacarnya belum dapat menikah lantaran ‘satu dan lain hal’? Kalau begitu, alangkah baiknya bila kita selisik dulu mengapa mereka belum dapat menikah.
Apakah kita belum dapat menikah karena belum mendapatkan pekerjaan dengan penghasilan yang dirasa cukup untuk menghidupi rumah-tangga? Ataukah karena belum didukung sepenuhnya oleh keluarga? Ataukah lantaran sebab2 lain? Seusai penyelisikan ini, barulah kita cari solusi yang relevan dengan ‘satu dan lain hal’ yang menyebabkan kita belum dapat menikah itu.
> Gimana dengan saran “akhiri hubungan”?
Akhiri Hubungan Pacaran?
Dik Ayu, cukup sering kita dengar saran berupa ‘puasa total’ (dengan “mengakhiri hubungan pacaran”), tak peduli apa yang menyebabkan kita belum dapat menikah. Tentu, ini saran yang bagus dan sangat efektif pada keadaan tertentu, misalnya bagi yang berlimpah kasih-sayang dan kuat imannya. Namun, alangkah baiknya bila saran tersebut kita periksa pula dengan lebih cermat untuk keadaan lain. Umpamanya, bagaimana bila disamping kita kurang yakin akan tahan godaan pasukan iblis untuk berzina, kita pun merasa keberatan untuk putus-hubungan lantaran pada dasarnya kita sangat membutuhkan kasih-sayang yang mendalam dan selama ini kurang terpenuhi? Dalam keadaan begini, mungkin sebaiknya kita tempuh solusi lain, yang tidak mengabaikan kebutuhan rasa cinta itu, sehingga para remaja muslim menjadi kuat dan mampu menaklukkan serbuan pasukan iblis itu.
Tidak mudah menjadi remaja muslim, khususnya di zaman sekarang. Lingkungan mereka penuh dengan pameran ‘hidangan yang pedas tapi lezat’ (romantika interaksi pria-wanita) di depan hidung mereka. Reality show ini mungkin tak terelakkan, sejak mereka melangkahkan kaki ke luar rumah hingga berada di dalam rumah kembali. Bisa saja sajian menggiurkan ini membombardir mata dan telinga mereka lewat media massa yang menyusup hingga kamar tidur mereka. Begitu setiap hari.
Begitu terpampang ‘fast-food’ yang menggiurkan itu di depan mata, bagaimana mungkin air liur mereka yang lapar akan kasih-sayang itu tak menetes? Dalam kondisi begitu, bijaksanakah kita bila mengharuskan mereka untuk menunaikan ‘puasa total’ 24 jam per hari bertahun-tahun selama mereka belum mampu menikah? Haruskah kita wajibkan mereka untuk menghindar total dari berbagai perilaku yang tergolong pacaran, sedangkan mereka nyaris ‘mati kelaparan di tengah oase’? Hanya karena kita takut mereka bakal ‘kepedasan’ kalau menyantap ‘hidangan pedas’ tersebut?
Takut ‘Kepedasan’? Perlu ‘Penyelamatan’!
Dik Ayu, gimana tanggapanmu? Kasih masukan lagi, dong!
> Kalo ngungkapin tantangan serius juga, aku khawatir
> para pembaca cuman akan menggigil ketakutan. Hiii…
> Dalam kengerian, mungkin mereka cemas:
> “Aduuuh… gimana, dong?”
Iya, ya… Jangan2, banyak di antara kita pernah/akan menjadi seperti seekor ‘tikus belia’. Tak cekatan berlari dan tak lihai bersembunyi dari kejaran pasukan iblis yang berujud ‘kucing dewasa’. Ketika tersudut di kolong almari, sementara perutnya kosong, terpaksalah si tikus meloncat keluar mencari makan. Namun, rasa ngerinya membuat si belia yang gemetaran ini lebih lemah lagi. Akhirnya, sang kucing ‘perkasa’ (yang telah sabar mengintai) menerkamnya dengan gampang sekali.
|
Yang mereka butuhkan adalah ‘penyelamatan’ (Islamisasi). |
Tentu saja, dalam keadaan ‘menggigil ketakutan di kolong almari’, saudara2 kita (seperti si A dan pacarnya yang nyesel pacaran dan mo tobat) itu tak perlu lagi kita takut2i. Yang mereka butuhkan adalah ‘penyelamatan’ (Islamisasi).
Di sisi lain, seperti halnya saran “lakukan pernikahan secepatnya” atau pun ‘puasa total’ belum tentu efektif, berdakwah dengan cara menakut-nakuti orang yang tidak ‘menggigil ketakutan di kolong almari’ pun belum tentu berhasil. Kita bisa membandingkannya dengan kasus rokok. Kita tau, di setiap kemasan dan iklan rokok disampaikan peringatan: “Merokok dapat menyebabkan kanker, serangan jantung, impotensi, dan gangguan kehamilan dan janin.” Tapi, efektifkah ‘dakwah’ dengan cara menakut-nakuti para perokok dan calon perokok ini? Sebagian orang mungkin menjadi ngeri dan tidak berani merokok sama sekali. Namun, sebagian lainnya tetap berani menghisap asap beracun ini. Ada pula yang, biarpun merasa takut, tetap nekat menekuni ‘tradisi’ merokok.
Tentu saja, orang yang ‘pemberani’ dan ‘nekat’ tersebut juga tak perlu lagi kita takut2i. Mereka perlu cara lain untuk bisa ‘selamat’ (Islami). Salah satu caranya, periksa peluang ‘pendapatan dari sesal dahulu’.
[i] EraMuslim.org, 17/01/2005.
About this entry
You’re currently reading “Menyesal Berpacaran, Ingin Bertaubat?,” an entry on Pacaran Islami? Siapa Takut!
- Published:
- 17 April 2007 / 16:12
- Category:
- 2 - Tafahus
- Tags:
- pacaran islami

Comments are closed
Comments are currently closed on this entry.