Pastikan Mana Racun, Mana Madu!
Adikku… Sudah sejauh manakah kita sambut peluang2 emas sebagus madu dalam hubungan pra-nikah? Beberapa tahun sudah kita lewati Musim Dingin. Otak kita telah kita olah. Melalui persahabatan dengan banyak lawan-jenis, kita galakkan pembangunan ukhuwah. Kemudian, kita susuri Musim Semi. Kita asah kalbu untuk menghasilkan kenikmatan cinta rahimiah lewat mengasmarai beberapa kekasih. Di Musim Panas sekarang, kita dapat mengasah kepribadian kita dengan ‘turun gunung’. (Wuih… kayak dunia persilatan aja. Hihihihi…)
‘Turun gunung’ yang kumaksud ini bukan ‘tepe’ alias tebar pesona kayak yang dipahami banyak orang. Misalnya, salah satu artikel sebuah edisi fun fearless female magazine, yang temanya “Bagaimana Menemukan Pria Idaman Secepat Kilat”, memuat tips-tips jitu untuk menggoda pria di tempat umum. Mulai dari pakaian seksi sampai rayuan maut dan bahasa tubuh yang ‘mengundang’. (Masya’ Allaah…. Majalah yang beredar luas di kota2 besar di Indonesia ini hendak mengarahkan pembacanya untuk menjadi penjual tubuh atau apa sih, batinku sambil geleng2 kepala.) ‘Turun gunung’ yang kumaksud itu adalah menempuh Jalan Pacaran (Musim Panas) secara Islami, bersama seorang kekasih pilihan kita.
Jalan pacaran ini kita rintis dengan Tafakur dan Tafahus. Dengan tafakur, telah kita renungkan aneka tantangan serius yang menyambut kita di Jalan Pacaran pada umumnya. Dengan tafahus, kita periksa salah satu peluang emas yang menanti kita di Jalan Pacaran Islami, yaitu ‘hidangan pedas lezat bergizi’. Dengan dua langkah ini, kita dapat melakukan pembedaan antara ‘racun’ dan ‘madu’. Contohnya begini…
Contoh Analisis Tantangan & Peluang di Jalan Pacaran
Di sepanjang tiga paragraf curhat “Menyesal Berpacaran dan Ingin Bertobat” di atas, tampak bahwa si A sering mengungkap “saya” (16 kali) dan “kami” (6 kali), sedangkan si “dia” hanya 1 kali. Orang lain tidak disebutnya sama sekali. Ini mengisyaratkan, ia kurang menaruh perhatian kepada orang2 lain. Dengan demikian, si A sedikit-banyak bersifat pelit, sebuah tantangan yang sungguh serius di Musim Panas. Karena itu, si A (dan siapa pun yang pelit di Musim apa pun) sebaiknya lebih bermurah-hati. Ia perlu lebih mengekspresikan kasih-sayang dan lebih banyak menaruh perhatian pada keluarga dan teman2nya. Dengan memanfaatkan peluang ini, energinya menjadi tidak terlalu terfokus kepada pacarnya, sehingga nafsu birahinya pun menjadi lebih terkendali.
Gejolak nafsu birahi si A dan/atau pacarnya (yang tadinya terpendam) itu makin berbahaya manakala tidak disadari bahwa sewaktu-waktu setiap orang berkemungkinan menumbuhkan sedikit-banyak bibit2 sifat munafik… Bila berpendapat “tidak ada pacaran dalam Islam”, mengapa “pacaran juga di semester akhir”? Mestinya, pastikan dulu bahwa memang ada pacaran tertentu yang tidak terlarang… Jika pacaran dengan tujuan baik, mengapa menodainya? Mengapa berbuat dosa berdua dengan pacar (membuka aurat selebar-lebarnya), padahal berjilbab (menutup aurat serapat-rapatnya) di depan nonmuhrim lainnya? Harusnya, pahami dulu cara pacaran Islami untuk mencapai tujuan yang baik… Kemudian, karena sifat munafik itu seringkali sulit untuk bisa dideteksi, sebagaimana terbukti dalam kasus si A, dan agar bersifat amanah, pacaran Islami membutuhkan pengawasan yang memadai. Jangan sampai kita berduaan, kecuali bila terawasi oleh orang2 yang tak memungkinkan kita untuk melakukan perbuatan munkar.[i]
Dik Ayu… Tantangan serius berupa sifat ‘pelit’ dan sifat ‘munafik’ itu kuliat kurang disadari si A. Hmmm… Mungkin masih ada tantangan2 serius lain yang kurang disadari, tetapi belum tampak jelas di teks curhatnya. Karenanya, diperlukan tafahus (penyelidikan) lebih lanjut untuk memastikannya. Umpamanya, si A malu membuka lagi buku2 Islami, bahkan malu untuk memohon kepada Allah, mungkin karena menumbuhkan sifat ‘malas’. Kalau memang kemalasannya itu lantaran merasa hina-dina, maka ia membutuhkan penerimaan sehangat-hangatnya, terutama dari orang2 yang paling diharap bisa melindungi dia. Bila ditakut-takuti, “Zina itu dosa besar!”, maka ia justru akan makin malu (dan makin malas berbuat makruf).
Tampaknya, tantangan yang sudah disadarinya, tapi belum dia temukan solusinya, adalah rasa kecewa dan sifat takabur. (Dua tantangan ini, bersama rasa cemas, kita prioritaskan penanganannya di Surat 7 ini, terutama di pasal Ta’ajub nanti. Enam tantangan lainnya mendapat giliran di Surat 8 dan Surat 9.)
Dik, aku ingatkan sekali lagi, tantangan2 di Jalan Pacaran itu amat sangat serius. Kita tak bisa mengatasinya bila kita bersikap ‘lugu’. Bener, nggak?
Jangan ‘Lugu’ dalam Menempuh Jalan Pacaran!
Dik Ayu… Liat lagi deh, contoh kasus si Intan di pasal Tafakur. Hanya karena mendapati diri telanjang dan seranjang dengan seorang lelaki, setelah beberapa jam tak sadar, Intan mengira dirinya telah diperkosa. Sebuah kesalah-pahaman fatal yang menyeret dia ke dalam skandal dengan ‘Pak Arjuna’ dan menghasilkan penderitaan berat lahir-batin.
Dari kasus tsb, paling tidak, ada satu pelajaran yang bisa kita petik. Kayak yang diungkapin mbak Ria <rana_sari@yahoo.com>:
Menurutku sih… kejadian yg dialami Intan ini merupakan pelajaran berharga bagi kita semua untuk selalu meningkatkan pengetahuan kita dalam bidang apapun, termasuk … ehm ehm (maluuu ku ngetiknya…). Jangan hanya pasrah tanpa usaha dan, mengutip kata2 temanku, jangan mudah menyimpulkan sesuatu… Pokoknya, cari tau dulu kebenerannya deh! Termasuk juga, omongannya pak Rahwana (cocoknya Rahwana dong [bukan Arjuna]!).
Cocoknya…. selamat datang di dunia nyata, Non! Jangan terkecoh ama nama keren, penampilan oke, mulut manis …. lebih2 di Jalan Pacaran. Kamu gak lupa kan, “Di Musim Panas ini kita akan sering ngeliat fatamorgana. Yang kita pandang surga, mungkin sesungguhnya neraka! Yang kita kira air penyegar, mungkin sebetulnya ranjau penghancur!”[ii]
|
Tak jarang, sewaktu hati kita berbunga-bunga, kita yg dewasa tak ada bedanya dengan anak2 yg lugu, … |
Oleh sebab itu, kita pastikan dulu, dong,… mana oase, mana fatamorgana! Mana domba, mana serigala. Mana yang menghidupkan, mana yang menghanyutkan… Tak jarang, sewaktu hati kita berbunga-bunga, kita yg dewasa tak ada bedanya dengan anak2 yg lugu, belum bisa bedakan mana madu dan mana racun.
Mo contoh keluguan anak2? Nih, kisah kenangan masa lalu mbak Ria (lagi) sewaktu dia duduk di kelas 4 SD. Eh, sori. Dia nggak duduk. Dia lari2…
Aku [waktu itu] anak yang sangat ‘memanfaatkan’ waktu istirahat sekolah. Waktu 15 menit sangatlah berharga. Pada saat jam istirahat, aku suka keliaran kemana-mana, bebaaaaas… refreshing laaah… Mulai dari turun-naik tangga, cari tempat nonton gratis di kompleks SD (tmpt bi’ Nu2ng), ato nongkrong di kantin sekolah. Terus… Klo denger yg namanya bel masuk, ku langsung lari2 masuk ke dalam kelas. Hihihihi. Itu ritual setiap bel istirahat.
Nah, suatu hari, bel tanda istirahat berakhir bunyi, aku lari2 mo masuk ke kelas. Semuanya berjalan lancar, sampe tiba di depan pintu kelas eeeeh… ada cowok mo keluar. Dasar refleknya lambat, ku ga bisa ngerem. Gdubrak… Terjadilah tabrakan. Aku cuma ngerasa badanku sakit dan lecet2. Gak ada perasaan apapun selain sakit.
TAPI, ekspresi teman2ku??? Yang cowok2, ketawa ngakak2. (Hmmm… awas, mereka!) Yang cewek? Ini parah banget… Mereka pada kuatir yg sanggaaaaaaaaat berlebihan sama aku. Mereka bilang, tabrakan gitu bisa bikin hamil!!! Salah satu dari mereka bilang ke aku tuk ngeliatin perutku, nanti membesar dan di dalamnya akan ada adek keciiiiil. Yaaaa ampuuuun!!! Aku waktu itu shock banget. Bayangin, di dalam perutku yg gendut ini akan ada bayi??? Rasanya mo nangis… Aku terus liatin perutku, belajar ga konsen lagi (kpn sih prnh konsen? :p), dan rasanya perutku ga enak banget. Kayak ada yg gerak2 di dalamnya, bisikku ke temanku. Kata dia sih, itu biasa bagi yg sedang hamil. Jawaban yg bikin aku tmbh takuuut… Akhirnya, ku pasrah aja nunggu bel pulang…
Sepulangnya dari sekolah, aku langsung cerita panjang lebar sama ibuku. Mulai dari kejadian tabrakan, hamil, sampe ada ade di dlm perutku. Ibuku tertawa, dan menjelaskan bahwa ku nggak apa2, nggak hamil. Gerak2 dalam perutku tuh cuma perasaanku aja. Aaah… puas deh…
Hahahaha… Lucu, ya, tingkah lugu anak2? Kalo dah ABG sih… nggak lugu lagi, kan?
ABG… SMP… SMA/SMK…
ABG. Anak baru gede. Umumnya, umurnya udah 13, tapi belum 16 tahun. Masa SMP lah. Sekolahnya dah ‘menengah’. Nggak ‘dasar’ lagi. Bukan anak kecil lagi. Makanya, banyak ABG suka nunjukin ‘kegedeannya’. Dari model busana, ragam riasan, jenis kendaraan, tongkrongan, bacaan, tontonan, sampe hobi pun udah beda jauuuh ama anak SD.
Buat jaga gengsi, koleksi pacar pun jadi program unggulan; pake rebutan bila perlu. (Ini kalo acuannya sinetron.) Tapi, apa emang kaum belia ini bener2 udah perlu pacaran? Apa dah mampu meneguk madu sesuai aturan minum dan menahan diri dari menghirup racun di Jalan Pacaran?
Belum! Menurut teori2 psikologi,[iii] kemampuan ABG buat ngendaliin ‘emosi’ diri sendiri (apalagi ‘emosi’ orang lain) masih jauuuh dari memadai, khususnya kalo dibandingin ama betapa seriusnya tantangan di jalan pacaran. (Perhatian! Emosi tuh gak cuman sediiih, marah2, dsb. Terlalu suka, terlampau pasrah, dsb, pun tergolong emosional.)
Konon, SMP tuh Senandung Masa Puber. Kataku sih, itu saatnya membuka hubungan diplomatik, eh… Saatnya Menjalin Persahabatan dengan lawan-jenis seluas-luasnya! Kalo di masa remaja-awal (usia 13/14/15) ini elo dah punya gandengan ke sana-sini, kasihan kandidat2 lain yg bentar2 ngelirik kamu! He3…. Masak, sebelum ‘menuju puncak’, mereka nggak kau kasih kesempatan buat ‘belajar bersama’ denganmu di ‘Akademi Fersahabatan Islami’ lebih dulu. Sebaliknya, bila kalian berpengalaman (ehm) ‘belajar bersama’, tentu kalian jadi mulai pinter ngenalin mana sikap dan perilaku yang disambut hangat ama sobat2 lain-jenis dan mana yang mereka tanggapi dengan dingin.
Di periode berikutnya, masa SMA/SMK atau usia 16/17/18, kalian akan seperti kutub magnet yang kuat. Tarik-menarik ama lawan-jenis dan ‘tolak-menolak’ (saling bersaing) ama sesama-jenis.
Dengan begitu, mungkin kalian rasakan adanya ‘kebutuhan’ penting buat ‘pacaran’. Kalo kau pikir ini penting, okelah. Tapi, kamu remaja yang Gede, kan? Pastikan, dong, ‘kebutuhan’ ini mendesak apa enggak!
Bayangin apa kau dah siap lahir-batin kalo tiba2 didesak tuk cepet2 nikah ama gebetanmu. Belum mampu dibebani urusan rumah-tangga, kan? Pikirin apa modal kamu dah cukup aman buat rebutan bangku kuliah dan lowongan kerja kelak. Trus, pertimbangin apa kamu gak bakal ketemu aneka-macam lawan-jenis yang lebih oke, lebih matang, lebih warna-warni. Kalo kurang yakin, sering2lah ‘studi banding’ ke kantor2 dan kampus2 perguruan tinggi yang kau idam2kan. Pastilah kau temui segudang insan yang lebih cool ketimbang kalian di masa SMA/SMK ini. Apa kau nggak pengen kelak sekeren mereka and dikelilingi lawan-jenis yang juga keren2?
Aku yakin, masa SMA/SMK bukan Saatnya Membonsai Akal ato Saatnya Menguras Kantong. Bagusnya, ini Saatnya Menikmati Asmara di lubuk kalbu ato Saatnya Menabung Kekasih di taman hati. Ini tempo paling pas buat menanam rasa cinta terhadap beberapa sahabat lain-jenis. Kita sediakan ruang tumbuh bagi mereka (dan bagi kita sendiri) sehingga berkembang semerbak harum mewangi. Rugi deh kalo di masa ini kita tlah terikat komitmen yang terlalu dini, cuman ngandelin ‘cinta’ yang belum cukup teruji.
Andai ada yang ‘nembak’ kamu, dan dia pun kau cintai pula, cukuplah beri kesempatan pada sang waktu buat ‘nguji’ cinta kalian. Jawab aja, misalnya, “Aku yakin belum saatnya ada komitmen antara kita untuk saat ini. Bagaimana kalau kita lihat saja nanti, bagaimana keadaan kita bila udah kelar dari sekolah menengah kelak? Kalau emang jodoh, tentu takkan lari ke mana. Kalo bukan jodoh, lari ke mana pun tak mengapa.”
Pendek kata, pada periode usia 16/17/18 ini pun kita belum perlu pacaran. Kenapa? Karena, kita belum cukup mampu tuk “nangani ‘kecemburuan sosial’ dan ngendaliin emosi si doi, kendati mungkin kita telah bisa ngelola emosi diri”.[iv] Jadi, kalo toh kita dapat mengenali mana madu dan mana racun, kita masih akan sering mengalami kesulitan untuk tidak terjerumus ke dalam ‘fatamorgana’.
Baru ketika umur kita dah 19, umumnya kita dah siap ‘turun gunung’.
Untuk 19 Tahun ke Atas
> Cihuiy… Kita udah 19 tahun ke atas. Kita bukan
> remaja belia lagi! Boleh, dong, kita ‘pacaran’?!
Adikku sayang…. Alhamdu lillaah. Kamu tak gentar tuk memasuki Musim Panas (lagi). Aku ngerti, sesungguhnya kau tak mau buru2 jadian.
Aku sering melihat di lingkunganku, ada banyak aktivis yang mengelola Musim Semi mereka tanpa merusak komitmen dakwah. Di antara mereka tidak ada yang buru2 jadian. Semuanya melalui pertimbangan yang matang. Semuanya melalui proses, selangkah demi selangkah. Tak jarang, pengalaman ini membuat mereka semakin tangguh, baik dalam kehidupan pribadi maupun kehidupan bermasyarakat.
Penasaran? Pengen ‘nembak’ si dia? Baiklah. Kutemani perjuanganmu ini melalui pasal Ta’aruf mendatang. Sekarang, seusai tafahus secukupnya, “Turunlah kamu sekalian dari sini. Bila datang kepadamu petunjuk dari Aku, maka siapa pun mengikuti petunjuk-Ku, mereka takkan cemas dan takkan sedih.” (al-Baqarah [2]: 38)
[i] Mengenai bolehnya berduaan bila terawasi, lihat WPPI: 61-67.
[ii] MCMD: 28.
[iii] Lihat NAI: 60.
[iv] Ibid.
About this entry
You’re currently reading “Pastikan Mana Racun, Mana Madu!,” an entry on Pacaran Islami? Siapa Takut!
- Published:
- 17 April 2007 / 16:05
- Category:
- 2 - Tafahus
- Tags:
- pacaran islami
