Periksa Peluang Pendapatan dari Sesal Dahulu!
Dik Ayu…. Omong2 hal-ihwal penyesalan, aku jadi inget ama sebuah peribahasa terkenal, “Sesal dahulu pendapatan, sesal kemudian tak berguna.” Tentu, kata2 mutiara ini tinggi nilainya. Mendorong kita untuk lebih berhati-hati sebelum bertindak.
Namun, bila diterapkan pada waktu kita sesali perbuatan nista yang telah kita lakukan, peribahasa tersebut bisa disalahgunakan. Diantaranya, kita menjadi terpusat pada ‘sesal kemudian tak berguna’. Padahal, ‘sesal kemudian’ terhadap suatu perbuatan di masa lalu itu masih bisa berguna. Caranya, kita mengubahnya menjadi ‘sesal dahulu’ terhadap perbuatan ‘serupa tapi tak sama’ yang akan kita lakukan di masa depan. Dengan begitu, kita tidak hanya dapat memperoleh pendapatan dari sesal dahulu. ‘Sesal kemudian’ yang kita jadikan ‘sesal dahulu’ pun memberi kita pendapatan.
Sayangnya, seringkali kita tak berusaha memperoleh pendapatan tsb. Ada berita pesawat jatuh, kita tak berani naik pesawat. (Mengapa tak kita selidiki pesawat yang bagaimana dan dalam keadaan apa suatu pesawat kurang aman?) Ada anak playgroup berlari tergopoh-gopoh, kita teriaki dia, “Jangan lari2! Bisa jatuh dan terluka kamu nanti.” (Mengapa tidak kita ajari dia keterampilan berlari dan kita lengkapi dia dengan pengaman?) Ada anak2 hendak makan cabai, kita hardik dia, “Jangan makan ini! Bisa kepedasan dan sakit perut kau nanti.” (Tidak adakah strategi alternatif?)
Dua Pilihan Strategi Atasi ‘Kepedasan’
Dik Ayu, kau tentu tahu, ada dua pilihan strategi ‘taubat’ agar kita tidak kepedasan. Pertama adalah ‘penghindaran’, kedua adalah ‘adaptasi’.
Strategi ‘Penghindaran’
Dengan ‘penghindaran’, kita ‘puasa total’ 24 jam per hari, pantang makan hidangan yang mengandung cabai. Kerugiannya: kita kurang bisa menikmati hidangan lezat-bergizi yang bercabai. Padahal, tidak semua cabai mengandung rasa pedas! Keuntungannya: kita tidak akan kepedasan, terutama dalam jangka pendek. Dalam jangka panjang, keuntungan ini bisa menyusut. Mengapa? Karena bila mulut dan perut kita tidak terbiasa dengan rasa pedas, maka rasa pedas yang sedikiiit aja udah dapat membuat mulut kita kepedasan dan perut kita sakit. Padahal, tidak semua hidangan itu gampang kita kenali ada nggak cabainya.
Pada kasus si A, terlihat bahwa sejak semula dia tidak pacaran karena dalam pandangannya, “tidak ada pacaran dalam Islam”. Ia memilih ‘puasa total’ dalam jangka waktu yang lama. Karena itu, sampai menjelang semester akhir, si A tak pernah ‘kepedasan’. Namun, efek sampingnya, ‘mulut dan perut’-nya menjadi kurang ‘terasah’ menghadapi ‘segala macam cabai’ lantaran tak terbiasa dengan ‘rasa pedas’. Pada semester akhir, dalam keadaan kurang terampil ini, tiba2 si A ‘makan hidangan yang sangat pedas’ (berpacaran secara ekstensif dan intensif). Ia hanya mengandalkan keyakinan “bahwa pacaran yang saya jalani akan aman karena tujuan kami baik”. Padahal, tujuan baik saja belum memadai. Akibatnya, ia menjadi ‘kepedasan’ (kewalahan menghadapi panasnya hawa-nafsu yang berapi-api)! Karena itu, sekarang ia perlu mempertimbangkan strategi lain yang bisa mengatasi rasa takutnya kalau2 ‘kepedasan’ lagi.
Strategi ‘Adaptasi’
Dengan ‘adaptasi’, kita tetap makan hidangan lezat-bergizi yang bercabai, tetapi disesuaikan dengan kekuatan mulut dan perut kita. Hanya dalam waktu atau keadaan tertentu kita ‘berpuasa’ (pantang makan bercabai). Kerugiannya: kita membutuhkan tambahan bumbu (yaitu cabai) untuk melezatkan hidangan kita. Padahal, harga bumbu tambahan ini ada kalanya relatif mahal. Keuntungannya: kita bisa menikmati hidangan lezat-bergizi yang bercabai, terutama dalam jangka panjang. Dalam jangka pendek, keuntungan ini tidak segera bisa dinikmati. Mengapa? Karena mengasah mulut dan perut agar kuat menghadapi rasa pedas itu membutuhkan ketekunan, kesabaran, dan waktu yang tidak singkat. Padahal, rasa pedas itu merangsang kita untuk melahap hidangan secepat-cepatnya.
Dengan memilih strategi alternatif ini, kita tak usah buru2 (seperti si A) menyantap ‘hidangan pedas’ selahap-lahapnya. Sebelum menempuh Musim Panas ini, pastikan dulu bahwa kita telah menjalin tali ukhuwah yang cukup kokoh dengan si dia melalui Musim Dingin dan telah membudidayakan ‘pohon asmara Islami yang hijau merimbuni’ di lubuk hati kita melalui Musim Semi.[i]
Lalu, begitu memasuki Jalan Pacaran ini, janganlah kita langsung melompat ke langkah Pembebasan yang ekstensif (menjalani beraneka-macam bentuk pacaran) dan Pengakraban yang intensif (berinteraksi dengan sang pacar secara mendalam). [Langkah Pembebasan dan Pengakraban, disamping Pemahaman dan Pembatasan, akan dipaparkan di Surat 8 mendatang.] Sebelum Pembebasan dan Pengakraban, kita lakukan dulu Tafakur, Tafahus, Ta’aruf, Ta’ajub, dan Pemahaman.
Kemudian, sewaktu muncul gejala ‘kepedasan’, bahkan jika ‘sedikit’ sekalipun, segera ambil langkah Pembatasan: “Enyahlah kau, syetan… Go to hell.” Siapa takut?!
Jangan Takut Melawan Syetan!
> Banyak yg takut ama sosok setan..
Ya. Banyak orang lebih takut kepada sosok setan daripada terhadap rayuan maut iblis yang ‘mengobarkan api yang membakar’ mereka. Bila menemui sosok hantu, rona wajah mereka yang semula sumringah berubah menjadi pucat pasi. Mereka njerit2, “DI SINI ADA SETAN!” Namun, ketika berduaan di tempat yang ‘sepi’ banget, di kamar kos misalnya, mereka maju tak gentar. Mereka ‘kebut2an’ di Jalan Pacaran, ‘serempet sana serempet sini’, ‘tabrak sana tabrak sini’. Mereka asumsikan, di situ tiada setan. Padahal, apakah hanya karena tak tampak, maka pasukan iblis itu tak ada? Apakah karena kita tidak melihat adanya musuh, maka keadaan kita aman?
Kita yakin, begitu gencar pasukan iblis menyerbu kita. Semakin kuat iman kita, semakin tangguh syetan2 yang ditugasi merayu kita. Mereka mendatangi kita “dari depan dan dari belakang, dari kanan dan dari kiri” kita (al-A’râf [7]: 17), sedangkan kebanyakan manusia (jangan2 termasuk kita) terjebak dalam “perangkap jahat” mereka. Padahal, begitu serius tantangan2 yg kita hadapi di Jalan Pacaran….
> Bukankah pembaca tak perlu lagi kita takut2i?
Benar, Dik… Hanya saja, ayat al-A’râf 17 tadi ada lanjutannya. Kepada iblis, Allah berfirman: “Keluarlah dari sini dalam keadaan terhina dan terusir. Jika ada di antara mereka yang mengikutimu, neraka akan Kuisi penuh dengan kalian semua.” (ayat 18) Kepada Adam, Tuhan berfirman: “Tinggallah engkau dan pasanganmu di taman surga dan nikmatilah mana saja yang kamu sukai. Tetapi janganlah kamu dekati pohon ini; kalau [mendekati] maka kamu melakukan pelanggaran.” (ayat 19)
> Adam-Hawa aja nggak lolos dari perangkap syetan.
> Mereka turun dari surga dalam keadaan malu, kan?
> Adakah jaminan bahwa kita akan tahan godaan
> di Jalan Pacaran?
Mutlak perlukah jaminan ‘tahan godaan’?
Tanpa jaminan tahan godaan, apakah kita tak boleh menempuh Jalan Pacaran (atau pun aktivitas ‘duniawi’ lainnya)? Mari kita periksa, Dik. Perhatikan, ayat-ayat al-A’râf tadi dirangkai dengan firman Allah kepada anak-cucu Adam-Hawa (ayat 27, 31):
Hai anak-cucu Adam! Janganlah kau biarkan syetan menggodamu seperti perbuatannya mengeluarkan bapak dan ibumu dari surga [dalam keadaan malu], dengan menanggalkan pakaian supaya mereka memperlihatkan aurat. Ia dan pengikut-pengikutnya melihatmu dari suatu tempat, sedangkan kamu tak dapat melihat mereka. Sungguh Kami jadikan syetan-syetan sekutu orang-orang tak beriman.
Hai anak-cucu Adam! Pakailah pakaianmu yang bagus pada waktu memasuki setiap masjid, makan dan minumlah, tetapi jangan berlebihan. Sungguh Ia tidak menyukai orang yang berlebihan.
|
Pakailah pakaianmu yang bagus …, makan dan minumlah, tetapi jangan berlebihan. |
Lihat! Memang, Allah tidak menjamin kita untuk tahan godaan syetan. Tak ada jaminan bahwa kita pasti dapat lolos dari perangkap pasukan iblis. Namun, anak-cucu Adam-Hawa, dipersilakan untuk ‘bersenang-senang’ (memakai pakaian yang bagus, makan dan minum), disertai peringatan “jangan berlebihan”. Jadi, apa salahnya kita pacaran selama berusaha tidak ‘berlebihan’ (memperlihatkan aurat, berzina, takabur, munafik, dsb.)? “Siapakah yang mengharamkan perhiasan (anugerah) Allah dan segala rezeki yang baik dan bersih yang disediakan untuk hamba-hamba-Nya?” (ayat 32).
> Tiada jaminan bebas dari godaan syetan…
> Ngeri, ah!!
Cemas? Yakinlah, Dik, kita mampu membuat syetan2 pada lari terbirit-birit dan ngacir lintang-pukang.
Justru syetanlah yang takut!
Tau gimana caranya agar syetan takut ama kita saat kita pacaran?
> Pake jimat ato mantera ala paranormal?
Bukaaan! Itu mungkin ampuh tuk nangkal gangguan jin, tapi nggak mempan buat nundukin syetan. Mendingan, nyalakan api cinta ‘rahimiah’! Artinya, teladani Ar-Rahîm, mencintai sebagaimana Dia mencintai. Caranya, jaga keindahan kekasih!
Selama kita selaku hamba-sahaya-Nya mewakili Dia menjaga keindahan ciptaan-Nya, pasukan iblis tak berkutik. Inilah tip spesial buat naklukin syetan di jalan cinta. Gitu aja prinsip kita. Nggak rumit, kan?
Ingatlah, Kami berfirman … “Sungguh engkau [syetan] tidak berkuasa atas hamba-hamba-Ku.” Cukuplah Tuhanmu sebagai penjaga. (al-Isrâ’ [17]: 61, 65) Sungguh Kami telah menghiasi langit lapisan bawah dengan indahnya bintang-bintang, dan menjaganya dari setiap syetan yang durjana, [sehingga] … mereka terlempari dari segenap penjuru, terusir, dan bagi mereka azab yang berkepanjangan, kecuali yang mencuri kesempatan sepintas, tetapi yang ini pun terkejar oleh api menyala yang berkobar-kobar. (ash-Shaffât [37]: 6-10)
Pengen syetan takut ama indahnya api cinta kita? Good. Yuk kita latih ‘otot kaki’ kita agar cukup kuat untuk ‘menendang’ syetan, out dari jalan pacaran kita, setiap kali coba2 mengganggu perjalanan kita.
Dan orang-orang yang menjauhi thâghût [syetan dan kekuatan jahat lain], tidak mengabdi kepadanya, dan kembali kepada Allah [dengan bertaubat], bagi mereka berita gembira; maka sampaikanlah berita gembira itu kepada hamba-hamba-Ku. Orang-orang yang mendengarkan berbagai perkataan lalu mengikuti yang terbaik di antaranya, mereka itulah yang mendapat petunjuk Allah dan mereka itulah orang-orang yang arif. (az-Zumar [39]: 17-18)
Arif-bijaksanalah dalam menentukan pilihan!
Sekarang, Dik, kamu dah ndengerin berbagai perkataan tentang strategi untuk tidak ‘kepedasan’. Ada strategi ‘penghindaran’, ada strategi ‘adaptasi’. Mana yang cocok untuk kau jalani saat ini? Aku yakin kau cukup arif dan mampu memilih yang terbaik bagimu. Bukankah akal-sehat dan ayat-ayat-Nya telah dibekalkan oleh Allah kepada kita agar kita tidak menimbulkan kerusakan? (Lihat MCMD: 80.)
Aku yakin, daripada strategi ‘penghindaran’, strategi ‘adaptasi’ lebih sejalan dengan ayat-ayat al-A’râf tadi, terutama ayat 31-32. Selama tidak berlebihan, silakan bersenang-senang! Dr. S. Waqar Ahmed Husaini menegaskan dalam bukunya, Islamic Environmental Systems Engineering, “Setiap individu dan masyarakat harus berjuang untuk memperoleh bagiannya di dalam kehidupan yang indah dan berlimpah-limpah ini. Menikmati segala sesuatu yang baik dihalalkan bagi semua lelaki dan perempuan.”[ii]
Sudahkah kita peroleh bagian yang baik dan suci, kenikmatan ilahi, di jalan pacaran islami? Sudah seberapa banyakkah kita sabet peluang ini?
Peluang ‘Emas’ di Jalan Pacaran Islami
Paling tidak, ada tiga peluang yang menanti kita: [1] kandungan ‘nutrisi’ atau ‘gizi’ di dalam ‘hidangan pedas’ (pacaran) yang islami, [2] berkembangnya potensi ‘fitri’ kita, terasahnya jiwa kita, matangnya kepribadian kita, dan [3] bergunanya diri kita dengan menjadi rahmat bagi lingkungan.
Kandungan ‘Nutrisi’ atau ‘Gizi’ di dalam ‘Hidangan Pedas’ (Pacaran) Yang Islami
-
Rasa Syukur. Melalui pacaran, rasa-puas kita rasakan manakala kebutuhan psikologis kita terpenuhi. Umpamanya: [1] merasa cukup (tidak membutuhkan apa-apa lagi), [2] merasa dihargai, [3] merasa dipercaya, [4] merasa dicintai (disayangi secara mendalam), [5] merasa diberi banyak perhatian, [6] merasa stabil, [7] merasa berguna, [8] merasa diterima, [9] merasa dinamis. Apabila kita menghayatinya secara islami, kesadaran akan rasa puas ini mendorong kita untuk bersyukur.
-
Sifat Tawadhu’. Sesudah masa eforia selama beberapa saat seusai jadian, kita biasanya mulai saling melihat kelemahan atau kekurangan sang pacar. Akibatnya, kita menjadi terbiasa dikritik. Berbagai kritikan ini bisa menumbuhkan kesadaran akan berbagai kelemahan dan kekurangan kita, lalu tumbuhlah sifat rendah-hati pada diri kita.
-
Sifat Amanah. Dengan teguh memenuhi janji-janji yang kita ikrarkan, mampu mengatasi aneka tantangan serius dalam pacaran, dan kuat menahan diri dari berbuat dosa walau ada kesempatan lebar, kita menjadi orang yang dapat dipercaya. Disamping lebih dipercaya oleh orang lain, kita pun menjadi lebih percaya-diri.
-
Sifat Tahu-Diri. Bila kita sadar bahwa status kita ‘cuma’ pacar si dia, baru sebatas bakal calon suami/istri-nya, maka kita tidak mengharap dia bersikap terhadap kita lebih dari status ini. Kita pun tidak melakukan perbuatan yang hanya boleh dilakukan oleh mereka yang sudah menikah. Ini melatih kita untuk menjadi orang yang tahu-diri.
-
Sifat Murah-Hati. Dengan mengekspresikan cinta dalam berbagai bentuk (yang halal, tentu saja), dan diterima oleh sang pacar dengan tangan terbuka, kita menjadi terbiasa bermurah-hati. Memberi sesuatu kepada orang lain menjadi terasa ringan, seringan menghembuskan nafas. (Bukan menghembuskan nafas terakhir, lho.) Dalam kacamata psikologi behavioral, kebiasaan memberi dengan seringan ini dapat sedikit demi sedikit menghalau pamrih kita yang pada mulanya mungkin menyertai pemberian itu.
-
Rasa Tenang. Dalam pacaran, rasa-tenang bisa kita peroleh lantaran berbagai hal, terutama mengenai masa depan. Contohnya: sudah tersedianya calon suami/istri, seseorang yang menemani kita mengarungi lautan kehidupan ini, baik dalam suka maupun dalam duka, seseorang yang senantiasa menerima keberadaan kita meskipun dia tahu ada banyak kelemahan dan kekurangan pada diri kita.
-
Sifat Produktif. Suatu pekerjaan, yang jika dilakukan sendirian menghasilkan sedikit saja, dapat membuahkan hasil yang optimal ketika ditangani oleh dua orang yang bahu-membahu. Sifat produktif ini tidak mustahil tumbuh dalam masa pacaran. Dengan saling cinta, pasangan yang pacaran bisa membawa kekompakan dan energi yang luar biasa.
-
Sifat Demokratis. Kita normalnya mendengarkan aspirasi sang pacar dan berusaha memenuhi permintaannya seberat apa pun. Tatkala bertentangan dengan kepentingan kita, musyawarah dengannya dapat kita tempuh untuk mencapai solusi sebaik-baiknya yang bisa diterima kedua belah pihak. Ini menumbuhkan sifat demokratis pada diri kita.
-
Sifat Rajin. Kita tentu tahu, banyak orang yang pacaran menjadi terlihat rajin. Kita menjadi tekun mengolah raga, berdandan, mengolah jiwa, belajar, menghadiri majelis taklim, dsb. Seperti pada sifat murah-hati, sifat rajin ini pada mulanya mungkin disertai pamrih tertentu. Namun, ketika kita menjadi semakin terbiasa dengan ‘tradisi’ ini, lambat-laun pamrih yang kita sadari keberadaannya itu pun bisa pupus dengan sendirinya.
Berkembangnya Potensi ‘Fitri’ dan Bergunanya Diri Kita
> Bagaimana pacaran islami dapat mengembangkan
> potensi fitri kita?
Ada banyak jalan. Dari mengamati perilaku saudara2 kita yang ngejalanin pacaran versi Islam, kupetik beberapa pelajaran gini nih…
Dengan terbiasa saling memperbaiki (amar makruf nahi munkar), kita lebih berpeluang menjadi pribadi [1] penyempurna yang kritis. Dengan saling memahami kepribadian secara mendalam, kita dapat menjadi seorang [2] penolong yang empatik (mengerti kebutuhan orang lain). Dengan mengutamakan kesuksesan (keberlanjutan) jalinan hubungan, kita terdorong untuk menjadi [3] penyesuai yang efektif. Dengan terlatih saling mengekspresikan rasa cinta yang mendalam, kita bisa menjadi [4] pencinta yang romantis. Dengan saling mengenal secermat-cermatnya, kita menjadi [5] penyelidik yang arif. Dengan lebih menaruh perhatian pada implikasi yang menyertai perjalanan pacaran kita, kian besarlah peluang kita untuk menjadi [6] perencana yang istiqomah (setia). Dengan saling dukung atas harapan atau cita-cita masing2, jadilah kita [7] pendorong yang optimistis. Dengan terus berikhtiar dalam situasi semusykil apa pun, jadilah kita [8] pejuang yang tangguh. Dengan senantiasa berupaya mengharmoniskan hubungan kita, jadilah kita [9] pendamai yang adil.
> Bagaimana kita menjadi rahmat bagi lingkungan
> melalui pacaran secara islami?
Ups… Ntar ya. Kelak insya’ Allah aku tunjukin di Surat 9, pasal Konklusi. Jika lupa, ingetin, ya! (Kalo sampe diomelin pembaca, nggak enak, kan?)
Peluang emas yang aku paparkan barusan kan udah bejibun.
> Kok ringkas banget? Kurang jelas, dong!
Itu cuman buat nunjukin sebagian saudara kita (yang meragukan manfaat dan kebaikan pacaran) bahwa ternyata peluang emasnya ADA banyak! Lagian, aku emang lebih fokus ama solusi buat ngatasi tantangan2 serius ketimbang ngiming2i kesempatan di tengah kesempitan. Klo ngungkapin semua peluang emas secara rinci, jelas dan gamblang, aku khawatir banyak pembaca jadi ngiler dan ngebet banget. Jangan2 mereka bakal pacaran terus2an sampe kecanduan. Amit2 deh. Tanpa tau peluang emas aja, banyak saudara kita tergiur tuk terjun ke jalan pacaran, kan?
Ingat, kita berada di Musim Panas. Di musim ini, mungkin ada banyak fatamorgana. Dan aku harap surat terbukaku ini tidak menciptakan fatamorgana baru bagi pembaca. Karena itu, aku kudu ati2 ngungkapin peluang2 emas di Jalan Pacaran. Namun, paling tidak, dengan garis2 besar itu aja pembaca udah bisa tergerak tuk menggali ‘oase’ (peluang2 emas) dengan lebih mendalam sesuai kemampuan masing2.
> Bukannya peluang2 emas itu terdapat pula
> pada pernikahan? Trus, buat apa pacaran?
> Kenapa gak langsung nikah aja?
Peluang Emas di Jalan Nikah?
Emang sih, peluang di jalan nikah tuh bisa lebih mengkilap. Tapi, tantangannya lebih serius. Tanggung-jawabnya jauh lebih besar. Makanya, tidak dalam semua keadaan, kita boleh langsung nikah.
Besar kemungkinan bahwa sering terjadi, kita masih kurang tangkas mengatasi problematika hidup berumah-tangga, tetapi sudah cukup mampu menghadapi tantangan serius seburuk racun di jalan pacaran. Dalam keadaan begini, peluang2 emas di jalan pacaran islami yang sebagus madu itu sebaiknya kita sambut, ‘kan?
[i] Lihat Manajemen Cinta Musim Dingin (MCMD) dan NAI.
[ii] Lihat pula surat Al-Qur’an yang bernama “Hidangan” (al-Mâ’idah), khususnya ayat 4-5 dan 87-88.
About this entry
You’re currently reading “Periksa Peluang Pendapatan dari Sesal Dahulu!,” an entry on Pacaran Islami? Siapa Takut!
- Published:
- 17 April 2007 / 16:09
- Category:
- 2 - Tafahus
- Tags:
- pacaran islami
