Punya Pacar? Jangan Takabur!
(Punya? Tidak! Kita tidak memiliki pacar. Yang benar, dengan jadian, kita menjadi pacar bagi kekasih pilihan kita.)
Dik, pada langkah ta’ajub sejauh ini, kita kelola rasa takjub kita terhadap si dia. Entah cinta kita berbalas entah tidak, si dia lah pusat perhatian kita. Kali ini, manakala kita udah jadian, mungkin perhatian kita beralih ke diri sendiri.
Siapa nggak bangga status sosial kita ‘naik’ dari jomblo ke ‘udah jadian’? Hati siapa nggak mekar lantaran ada si dia yang menaruh penghargaan besar kepada kita? Siapa nggak hepi ada temen deket spesial yang available saat suka maupun duka? Siapa nggak ngerasa aman ngedapetin kandidat kuat calon temen hidup ‘sehidup-semati’?
Boleh2 aja sih, Dik, ngerasa gembira saat jadian. Seolah menempuh hidup baru yang lebih cerah. Bagai langit bertabur bintang kemintang. Dari bintang kejora sampai bintang film, eh… kepeleset, sori…. Sewaktu kita dilanda eforia (berlimpahnya rasa gembira) lantaran jadian, kita emang gampang kepeleset. Makanya kita kudu ati2. Rasa takjub terhadap diri kita sendiri ini perlu kita kelola agar enggak berlebihan.
Pengelolaan ini penting sekali, lho! Kenapa? Karena, rasa kagum yang berlebihan terhadap diri sendiri bisa mengarah pada cinta kepada diri sendiri. Nggak mencintai orang lain. Bisa2, takabur atau tinggi hati itu pertanda cinta imitasi, sesuatu yang harus kita jauhi.
Cara Efektif Jauhi Sifat Takabur
Dik Ayu, aku kagum ngeliat gimana kamu ngalahin sifat takabur di dalam dirimu. Jadinya aku tertarik nyari tau kunci suksesmu (dalam hal ini). Agar jadi teladan bagi diriku sendiri (plus para pembaca).
Setelah kuamat-amati, kusimpulkan ada empat cara yang tlah kau jalanin sampai kau mampu naklukin sifat tinggi hati di jalan pacaran: [1] tutup mata atas kelebihan diri, [2] hargai kelebihan orang lain, [3] maklumi kekurangan orang lain, dan [4] waspadai kekurangan diri.
Tutup mata atas kelebihan diri!
Pernah sih, aku belalakkan mata lebar2 di depan cermin. “Inilah aku, bidadari yang mampir di bumi.” Gimana enggak? Si dia kan orangnya keren abis, cool banget, tipe idaman para calon mertua. Kok dia mau jadi pacar aku? Kalo aku nggak jempolan, masak dia mau sama aku? Tapi… astaghfirullaah… Allaahu akbar, Allaahu akbar, Allaahu akbar… Allah Mahahebat, Allah Mahahebat, Allah Mahahebat…
Sehebat-hebatnya kita, tentulah Allah yang Mahahebat. Kalo bener kita oke banget, Allah lah yang menjadikan begitu. Bila tidak dikehendaki-Nya, mana mungkin kita begitu memikat hingga si dia mau jadi pacar kita? Yang hebat bukan kita, melainkan Dia. So, ngerasa diri jempolan, apa nggak salah?
Maha suci Dia Yang telah menjadikan gugusan bintang-bintang di langit dan menempatkan pelita dan bulan yang menerangi [bumi]. Dan Dialah Yang menjadikan malam dan siang saling berkejaran, bagi siapa pun yang mau mengingat [kehebatan-Nya] atau mau bersyukur. Dan hamba-sahaya Sang Maha Pengasih ialah yang berjalan di muka bumi dengan rendah hati…. (al-Furqân [25]: 61-63)
Tuuuh… Justru dengan rendah hatilah kita menjadi hamba-sahaya Sang Maha Pencinta. Dengan rendah hatilah kita mampu memancarkan sifat cinta-Nya. Dengan menutup mata atas kelebihan dirilah kita bisa menjadi pencinta yang Islami.
> Bisakah kita tutup mata atas kelebihan diri?
Usaha, dong! Salah satu caranya yang efektif, kita sadari bahwa kita tidak punya hak atas sang pacar. Kita merasa tidak cukup tinggi untuk menguasai si dia, tidak cukup berhak untuk menuntut banyak kepadanya, tidak cukup jempolan untuk memiliki si dia, dsb.
Jadinya, kita nggak gampang cemburu ngeliat si dia masih berakrab-ria dengan orang lain. Kalo pun cemburu, kita tak kesulitan mengatasinya dengan cara yang… pokoknya oke deh. Kita nggak sakit hati manakala perhatian yang dicurahkan sang pacar kepada kita kurang sesuai dengan harapan kita. Alih2, kita ngerasa beberapa orang lain sering lebih berhak atas si dia. Pada diri mereka ada beberapa kelebihan yang mesti kita hargai.
Hargai kelebihan orang lain!
Dengan udah jadian, mungkin bakal ada beberapa perubahan drastis. Di satu sisi, kita ngerasa ‘cukup’ hidup berdua, nggak butuh orang2 lain, termasuk keluarga en sahabat dekat. Mungkin malah kita ngerasa privasi kita terganggu bila mereka deket2 ama kita. Tanpa kita sadari, kita jauhi mereka. Di sisi lain, bolehjadi mereka sungkan bila mengganggu urusan ‘pribadi’ kita. Lalu mereka jaga jarak secara sadar. Mereka beri kita kesempatan seluas-luasnya buat kita berduaan.
Tapi, awas! Dengan perilaku gitu, kita bak mupuk sifat takabur. Dengan merasa nggak butuh orang2 lain, kita jadi kurang menghargai mereka. Padahal, biarpun udah jadian, hajat kita kepada mereka, khususnya keluarga en sahabat akrab, sesungguhnya nggak berkurang. Kelebihan mereka tetap kita perlukan. Bahkan, besar kemungkinan bahwa kita justru semakin membutuhkan mereka. Umpamanya untuk mengawasi kita agar pacaran kita tetap berada di jalan Islam.
|
… ketika kita udah jadian, janganlah kita renggangkan hubungan2 kita lainnya, lebih2 secara drastis. |
Oleh sebab itu, ketika kita udah jadian, janganlah kita renggangkan hubungan2 kita lainnya, lebih2 secara drastis. Keluarga tetaplah keluarga, sahabat tetaplah sahabat. Jangan sampai setelah jadian dengan satu orang kekasih, yang belum tentu jadi teman hidup selamanya, kita kehilangan selusin sahabat sejati, apalagi keluarga!
Jika kita udah bertatap muka seminggu sekali ama si dia sebelum jadian, tak perlu setiap hari kita bertemu dengannya usai jadian. Pertahankan aja kuantitas komunikasi seperti biasanya. Tak perlu banyak perubahan. Kalo pun perlu ditambah, dikit demi dikit aja. Jangan sampai ‘jatah’ komunikasi dengan orang dekat lainnya menjadi terampas. Lebih baik berfokus pada peningkatan kualitas hubungan. Lebih produktif, bukan lebih konsumtif! Oke?
Maklumi kekurangan orang lain!
Untuk tetap berhubungan akrab dengan orang2 dekat seperti yang kuungkap barusan, mungkin kita sering terdorong untuk melibatkan si dia. Tiap kali ngobrol dengan orang lain, dikit2 kita kaitkan dengan si dia. Umpamanya, saat ngerumpi soal dampak tayangan kekerasan di teve dan komik bagi anak2, tiba2 kita nyeletuk bahwa si dia berwatak lemah-lembut meski sejak kecil gemar nonton pertandingan tinju dan baca komik silat. Idiiih… Emangnya, siapa peduli dia?! Yang diomongin kan dampak tayangan bagi anak2 pada umumnya…
Mungkin niat kita baik. Pengen ngasih informasi tambahan, misalnya. Tapi, bisa saja kita jadi kurang terdorong untuk memaklumi ‘kekurangan’ orang lain. Kita kurang membuka mata bahwa anak2 pada umumnya hidup dalam lingkungan keras. Baik fisik maupun mental, baik di dalam maupun di luar rumah. Kalo dibandingin ama pacar kita yg sejak kecil hidup damai, tenang, tenteram, dalam kasih-sayang keluarga, anak2 kita pada umumnya sangat lain, kan? Biarpun si dia tuh unik, nggak seperti orang2 pada umumnya, nggak usah ditonjol-tonjolin deh. Tak usah melakukan hal2 yg mengarah pada sikap memamerkan si dia, lebih2 di depan rekan kita yang masih jomblo.
Namun, kendati kita nggak membangga-banggakan si dia, tentu saja janganlah kita rendahkan dia. Kita tetap perlu memaklumi kekurangan sang pacar.
> So what?
Maksudku gini… Dengan jadian, barangkali kita menaruh harapan besar pada si dia. Kita ingin keberadaan kita ada gunanya bagi dia. Kita ingin dia jadi lebih baik, bukan lebih buruk, usai jadian ama kita. Dengan semangat ‘dakwah’, kita gencar lancarkan berbagai kritikan kepadanya. Lebih2 kalo kita ngerasa diri lebih baik daripada si dia. (Padahal, kalo pun lebih baik, itu tidak dalam semua segi.) Kita mungkin lupa, dia pun manusia biasa yang sering perlu dibesarkan hatinya, antara lain lewat pujian, bukan kecaman, dalam menjalani kerasnya kehidupan. Emangnya, pada diri kita sendiri tiada kekurangan yang perlu dikritik?
Waspadai kekurangan diri!
Adikku yang rendah hati… Untuk lebih mewaspadai kekurangan diri kita, ayolah kita tanamkan ke jiwa kita nasihat Soedjarwo dalam sajaknya, “Barang Pecah Belah”. Gini nih:
Barang-barang yang terbuat dari kaca itu
mudah sekali pecah
gelas, botol, atau cermin
harus diperlakukan
dengan sangat hati-hati
Ternyata hatimu juga termasuk
barang pecah belah itu
yang mudah retak, geripis, atau pecah
Hatimu mudah sedih, waswas, dengki, atau iri
kadang sombong, angkuh, tak mau tersaingi
lalu stres, kecewa berat, dan frustrasi
yang dapat menurunkan kesehatanmu
Perlakukanlah hatimu seperti
barang pecah belah yang lain
yang kalau berbenturan atau jatuh
dapat retak atau pecah berkeping-keping
Dik… Mari kita sadari betapa rapuhnya hati kita, bagai barang pecah-belah, lebih2 kalo dibandingin ama tantangan2 serius di Jalan Pacaran. Dengan kesadaran ini, insya’ Allah kita lebih peka akan kemungkinan munculnya bahaya2 yang tak selalu bisa kita prediksi. Kepekaan ini sumberdaya yang berharga bagi perjalanan kita di Musim Panas.
Optimalkan Kegunaan Posisi Selaku ‘Bakal Calon’!
Dengan sumberdaya tersebut tadi, insya’ Allah kita lebih mampu membedakan mana oase dan mana fatamorgana, mana racun dan mana madu, mana lombok dan mana kacang panjang, mana yang menyebabkan kepedasan dan mana yang tidak…. Alhamdu lillaah….
Dengan ‘berpedas-pedas’ tanpa ‘kepedasan’ seperti itu, kita menjadi ‘segar’ (sehat jiwa-raga) di jalan pacaran. Dalam kondisi fit ini, kita bisa mengoptimalkan kegunaan posisi kita selaku ‘pacar’ si dia.
Dengan jadian, Dik, status kita naik dari teman biasa menjadi bakal calon teman ‘sehidup semati’. Terbukalah peluang kita untuk menggali dan kemudian memperdalam kesiapan nikah kita. Baik kesiapan diri maupun si doi, ekonomik maupun psikis, sosial maupun kultural, de el el. Pokoknya, apa aja yang kita butuhin buat bekal ‘menempuh hidup baru’, hingga kita bisa menjadi rahmat dan bukan benalu bagi lingkungan.
> Boleh, dong, kita jadian?!
Dik Ayu adikku… Aku senang kau berkesempatan memproduksi kemaslahatan rahimiah bersama-sama dengan seorang kekasihmu yang secara ‘resmi’ naik pangkat jadi pacarmu. Optimalkanlah kegunaan posisi kalian. Bersama-sama dengan pacarmu, kembangkanlah potensi fitri di ‘musim panas’ ini secara tertata dan terarah menuju surga Ilahi.
> Gimana caranya?
Itulah tema pendalaman kita di Surat 8 mendatang. Sabar, ya. Kita meniti jalan pacaran islami selangkah demi selangkah. Dengan step by step, peluang2 emas di jalan ini dapat kita tangkap dengan lebih… lebih… lebih surgawi…
Hai hamba-hamba-Ku! [Mulai] hari ini kamu takkan cemas dan takkan sedih. [Hai orang-orang] yang percaya pada ayat-ayat Kami dan berserah-diri [kepada-Ku]! Masuklah kamu dan pasangan-pasanganmu ke dalam taman surga dalam keadaan gembira. (az-Zukhruf [43]: 68-70) Sungguh orang-orang yang beriman dan berbuat baik serta merendahkan diri di hadapan Allah, merekalah penghuni surga, tinggal di dalamnya selama-lamanya. (Hûd [11]: 23)
24 Agustus 2004 – 24 Mei 2005
Kakakmu yang dekat di hati,
Ais
About this entry
You’re currently reading “Punya Pacar? Jangan Takabur!,” an entry on Pacaran Islami? Siapa Takut!
- Published:
- 17 April 2007 / 8:12
- Category:
- 4 - Taajub
- Tags:
- pacaran islami
