Secara Islami, Siapa Takut?!

17 April 2007

Ya Allaah… Engkau tentu Mahacermat dalam memeriksa produktivitas kami di jagat ayat. Bukannya produktif, begitu sering kami bertindak konsumtif. Lihatlah bagaimana ayat2-Mu kami jadikan santapan setiap kali kami kelaparan. Ayat2-Mu kami timbun di bagasi memori. Terus begitu sampai kami kekenyangan, mengira diri serba kecukupan.

Contohnya… nggak usah jauh2 lah. Liat aja gimana tingkah-polah kami, penulis dan pembaca dua buku kami terdahulu, MCMD dan NAI. Dapatkah materi itu kami santap ludes dalam sekejap? Soalnya, kami lapar berat. Sudah begitu lama kami senandungkan getar2 hati yang malu2 kucing. Tiap malam, air liur kami yang bau kencur ini mengucur. Pengeeen banget ngelahap hidangan spesial yang kami sebut ‘Pacaran Islami’….

Kami sih pengennya yang enak2 gitu tuuuh. Tapi, tega2nya penulis ngerangkai kata seenaknya sendiri. Sering tak jelas mau ngomong apa. Belum tuntas penyajian suatu topik, tiba2 pembaca disodori topik lain. Lagi dan lagi. Alurnya bergerak liar ke sana kemari. Belum lagi gayanya, suka sok milosofis dan sok nyastra. Masya’ Allaah… sajian2 itu ternyata masih mentah! Mana mungkin bisa langsung kami telan?

Trus, tiap kali ngerasa tiada rumusan kesimpulan yang bisa langsung kami telan, nyengirlah kami. Persis kayak kuda. Tapi… kok jadi gini, ya? Jangan2 akal dan kalbu kami udah tumpul dan karatan. Tak tajam lagi buat ngiris2 bahan mentah. Akibatnya, tak sanggup kami susun kesimpulan sendiri. Tak mampu kami produksi makna2 yang ‘baru’ bagi kami, walau ‘lama’ bagi-Mu. (Lautan pengetahuan-Mu yang tanpa tepi itu belum dalam kami-selami. Samudera hikmah di balik ayat2-Mu yang sempurna itu belum jauh kami-arungi.)

Ketika di depan hidung kami muncul makna ‘baru’, malah kami jadi uring2an kayak orang kepedasan. Bagaimana tidak berang? Benar-salahnya makna lama yang selama ini kami ‘miliki’ dipersoalkan. Mana mungkin tak merasa terusik? Gengsi dong, kalo kami tarik kembali air ludah yang telah berhamburan keluar dari lidah kami ini? Kami telah ‘terlanjur’ merasa aman dan nyaman, berlindung kepada makna yang selama ini kami yakini kebenarannya.

O, my God. Kalau makna2 terhadap ayat2-Mu yang kami tangkap dengan jaringan akal insani itu belum tentu benar, bagaimana kami jalani kehidupan yang penuh dengan ketidakpastian? Apa sih Kehendak-Mu? Kau minta kami berserah diri kepada-Mu belaka? Bukan berlindung kepada makna2 yang menjejali kepala kami? Walau rasa ‘aman’ lah taruhannya, Engkau perintahkan kami belajar dan terus belajar? Mengkaji ayat dan terus mengkaji ayat? Memproduksi dan terus memproduksi makna? Termasuk saat membaca ‘ayat2’ pacaran?

Ya Allaah… Ampunilah dosa pembaca ‘ayat2’ pacaran yang keasyikan ngejalanin pola-baca konsumtif dan juga dosa penulis yang sok produktif ini. Terangilah jalan kami. Hindarkanlah kami dari menjadi ‘robot’ yang tak mau dan tak mampu memproduksi makna2 baru. Berilah kami hidayah-Mu dari ilham2 tentang pacaran Islami yang Kau suplai. (Aamiiin.)

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.